Penyelesaian
Tidak dipungkiri dalam setiap kehidupan ada permulaan ada juga penyelesaian. Kita diciptakan melalui permulaan dua insan yang menjalin kasih karena sebuah perjanjian besar kepadaNya. dan dari permulaan itu pula kita terlahir didunia ini. Melalui tangan halus mereka berdua mulailah kita menjajaki dunia baru yang penuh dengan pertanyaan dan permulaan. pertanyaan kapan kita bisa berbicara? pertanyaan kapan aku bisa berjalan? dan pertanyaan yang mungkin tidak dapat terungkap oleh kedua insan. yang mereka tahu kita sedang memulai sebuah hal yang baru dan ingin kita usahakan untuk melakukannya. dari tahapan itu aku mampu untuk mengurai sebuah kata menjadi ucapan. merangkai 26 huruf menjadi kalimat yang membuatku semakin tahu bahwasanya sebuah permulaan yang baik akan menghasilkan yang baik pula, walaupun tidak semua teori tersebut mutlak benar. lamban laun kita menjadi tahu bahwasanya permulaan yang kita lakukan adalah sebuah perihal proses yang wajib kita lewati. dan pastinya yang kita ketahui permulaan itu selalu diawali dengan kata "apakah aku bisa melakukannya?" normatif, namun setiap kami pastinya akan mengatakan demikian. ketahuilah bahwasanya sejak kecil kita sudah distimulus oleh orang tua kita untuk belajar keyakinan untuk permulaan. bayangkan kalau sejak kecil kita tidak distimulus oleh kedua orang tua kita untuk berjalan dan berbicara. mungkin kita sekarang belum bisa berlari dan berkomunikasi dengan lainnya. sadar atau tidak saat itu tidak ada terbesit pertanyaan "apakah aku bisa melakukannya?" yang ada kita terus melakukan. mungkin sesekali kita menangis, sesekali juga kita bahagia karena kita bisa melakukannya. yah, pada saat itu kita sudah menyelesaikan tugas kita untuk bisa membuat orang tua kita tertawa bahagia atas segala kepolosan kita melakukan hal tersebut. begitulah fase kita yang mungkin sekarang kita sukar melihat sebuah peluang untuk melakukan sesuatu. setiap permulaan terasa sukar, sukar diawal belum tentu juga sukar saat proses. karena yang kita ketahui proses yang dilewati ada sebuah jalan untuk menuju sebuah penyelesaian yang sempurna. tinggal kita ingin mengambil jalan mana. jalan pintas atau jalan memutar. tujuan jelas disana. tinggal kita mau jalan apa tidak? permulaan jalan adalah melangkahkan kaki, penyelesaian yang baik adalah senyuman bahagia melewati proses yang mungkin kita aggap sukar.
Magelang, 30 Mei 2016
Senin, 30 Mei 2016
Selasa, 17 Mei 2016
ini kisahku: Aku ingin belajar
aku ingin selalu belajar
kadang kala alam terlalu baik untuk hanya sekedar memberikan pemandangan untuk memperindah hati dan pikiran. mencoba untuk terus mengetahui maksud itu semua sepertinya terlalu sukar untuk hanya sekedar dinikmati semata saja. boleh jujur sejatinya manusia diberikan kesempatan untuk hidup didunia ini tidak semata untuk belajar. hmmm...agaknya egois mungkin jikalau didunia ini hanya untuk belajar saja. ketahuilah kawan belajar bukanlah terkait aku sarjana sedangkan kamu masih pelajar tingkat menengah. belajar adalah perihal rasa haus kita terhadap sesuatu hal yang kita anggap itu perlu kita ketahui. memahami satu kesatuan bukanlah sebuah hal yang memuaskan. sejatinya satu kesatuan masih berlimpah lagi sesuatu yang hanya mampu dibuka oleh seseorang yang mampu membukanya. dengan belajar kita mampu membuat pondasi hidup ini agaknya lebih baik dari biasanya. selayaknya kita membuat sebuah gedung yang tinggi pastinya yang kita butuhkan sebuah pondasi yang kuat untuk membuat sebuah bangunan yang kokoh dan megah. alam menyediakan segalanya bukan hanya sekedar dinikmati semata. dipelajari dan difahami apa definisi dari semua ini. kata siapa alam tidak mampu berbicara. kau salah kawan, sejatinya alam mampu mencitrakan apa yang ada dalam hatinya. bukankah kita ketahui banyak kejadian alam yang membuat kita tidak mampu berfikir dengan pikiran manusia. bahwasanya alam mampu mencitrakan apa yang ada difikirannya saat ini.
memahami setiap beluk dari segala kisah yang kita dapatkan dari keseharian bahwasanya banyak manusia diluar sana mencoba untuk terus bergerak menjadi lebih baik dari sebelumnya. bukankah itu yang selalu diucapkan oleh semua manusia. menjadi lebih baik dari sebelumnya dan akhirnya stuck pada sebuah kalimat "what should i do?". Sejatinya banyak hal jikalau kita mampu membuka cakrawala pikiran kita. membatasi pikiran kita hanya akan membunuh diri kita sendiri. sejatinya berpikir adalah sebuah kebebasan yang dikaruniakan kepada manusia. lantas mengapa kita menutup jendela itu? kukatakan sekali lagi kawan... jangan kamu menutup pintu itu biarkan terbuka. biarkan cahaya matahari itu menembus kedalam rumah pikiran kita. menghangatkan semua yang ada didalamnya. jika malam tiba kita kembali menutupnya dan sesaat kita melihat malam yang dipenuhi bintang dan bulan yang indah. sejenak kita berfikir mengapa demikian?
Magelang, 17 Mei 2016
kadang kala alam terlalu baik untuk hanya sekedar memberikan pemandangan untuk memperindah hati dan pikiran. mencoba untuk terus mengetahui maksud itu semua sepertinya terlalu sukar untuk hanya sekedar dinikmati semata saja. boleh jujur sejatinya manusia diberikan kesempatan untuk hidup didunia ini tidak semata untuk belajar. hmmm...agaknya egois mungkin jikalau didunia ini hanya untuk belajar saja. ketahuilah kawan belajar bukanlah terkait aku sarjana sedangkan kamu masih pelajar tingkat menengah. belajar adalah perihal rasa haus kita terhadap sesuatu hal yang kita anggap itu perlu kita ketahui. memahami satu kesatuan bukanlah sebuah hal yang memuaskan. sejatinya satu kesatuan masih berlimpah lagi sesuatu yang hanya mampu dibuka oleh seseorang yang mampu membukanya. dengan belajar kita mampu membuat pondasi hidup ini agaknya lebih baik dari biasanya. selayaknya kita membuat sebuah gedung yang tinggi pastinya yang kita butuhkan sebuah pondasi yang kuat untuk membuat sebuah bangunan yang kokoh dan megah. alam menyediakan segalanya bukan hanya sekedar dinikmati semata. dipelajari dan difahami apa definisi dari semua ini. kata siapa alam tidak mampu berbicara. kau salah kawan, sejatinya alam mampu mencitrakan apa yang ada dalam hatinya. bukankah kita ketahui banyak kejadian alam yang membuat kita tidak mampu berfikir dengan pikiran manusia. bahwasanya alam mampu mencitrakan apa yang ada difikirannya saat ini.
memahami setiap beluk dari segala kisah yang kita dapatkan dari keseharian bahwasanya banyak manusia diluar sana mencoba untuk terus bergerak menjadi lebih baik dari sebelumnya. bukankah itu yang selalu diucapkan oleh semua manusia. menjadi lebih baik dari sebelumnya dan akhirnya stuck pada sebuah kalimat "what should i do?". Sejatinya banyak hal jikalau kita mampu membuka cakrawala pikiran kita. membatasi pikiran kita hanya akan membunuh diri kita sendiri. sejatinya berpikir adalah sebuah kebebasan yang dikaruniakan kepada manusia. lantas mengapa kita menutup jendela itu? kukatakan sekali lagi kawan... jangan kamu menutup pintu itu biarkan terbuka. biarkan cahaya matahari itu menembus kedalam rumah pikiran kita. menghangatkan semua yang ada didalamnya. jika malam tiba kita kembali menutupnya dan sesaat kita melihat malam yang dipenuhi bintang dan bulan yang indah. sejenak kita berfikir mengapa demikian?
Magelang, 17 Mei 2016
Senin, 04 Januari 2016
ini kisahku: kecantikan
Kecantikan hanya cocok disematkan kepada ummi, adik perempuanku dan.....
Kamu?
Oh iya kamu yang kelak menjadi penyempurna iman dan taqwaku. Yang menjadi madrasah bagi anak-anakku. Calon ibu inspiratif bagi keluarga dan menjadi orang yang dicintai pertama kalinya oleh anak-anakku
Oh iya kamu yang kelak menjadi penyempurna iman dan taqwaku. Yang menjadi madrasah bagi anak-anakku. Calon ibu inspiratif bagi keluarga dan menjadi orang yang dicintai pertama kalinya oleh anak-anakku
Karena sejatinya kasih sayang dan cinta tertuju kepada orang yang benar-benar rela menjagamu.
Pemalang, 22 Desember 2015
ini kisahku: menggenap
Menggenap bukan perkara mudah yang senantiasa terucap. Agaknya itu kata yang sangat berat. Karena ketika memutuskan menggenap, itu berarti kita siap untuk membagi kehidupan kita dengan yang kita genapi. Ada orang yang akan kita repoti setiap hari, ada orang yang selalu mengingatkan. Menggenap bukanlah sekedar kita berjanji dengan seorang laki laki yang melindungi. Melainkan perjanjian ku dengan Sang Penjaga Insan Manusia. Saat menjabat seperti ada sebuah Gunung yang siap menjadi tanggung jawab baru. Yah, menggenap juga sebagai sarana introspeksi setiap insan yang memiliki rasa. Cinta dan kasih sayang.
Siap menggenap?
Pemalang, 24 Desember 2015
ini kisahku: Pertemua
pertemuan
memikirkan kembali definisi dari sebuah pertemuan. pertemuan itu bisa saja menjaid perpisahan sementara dari sebuah waktu. tidak bisa menyalahkan keseluruhan kepada waktu. karena waktu tak bisa kita salahkan. waktu sudah berusaha sedemikian rupa untuk berputar dan mempertemukan kita dalam sebuah pertemuan. yah, pertemuan yang dimaksud ini adalah pertemuan dengannya. dalam sebuah pelatihan yang luarbiasa kita bertemu dan berusaha saling memberikan gagasan baru untuk Indonesia. agaknya lucu sekali jikalau pertemuan itu kita buat menjadi pertemuan yang berkesan menyedihkan. bukankah setiap pertemuan itu bersifat bahagia? kenapa kita malah membuat pertemuan itu menjadi sangat menyedihkan? ayolah untuk bisa senantiasa membuat pertemua itu menjadi sangat menyenangkan. matahari saja selalu menanti waktu dimana bisa bertemu dengan bumi, bulan saja selalu menanti waktu untuk bisa bertemu dengan bintang. lalu, kenapa kita nggan untuk bertemu dengannya?
ah aku tahu sahabat, kita masih malu dengan diri ini yang masih harus bnyak belajar lebih darinya. bisa saja waktu berkata lain. tenang kamu tidak perlu men-dikte waktu harus A dan B. karena bahwasanya waktu tidak akan pernah berkompromi dengan kita, sahabat. Jadikan momment pertemuan kita dengan semua orang selalu istimewa. apalagi bertemu denganNya? wah kalau iktu aku tidak bisa berkata yang lain, sahabat.. :D
Magelang, 04 januari 2016
memikirkan kembali definisi dari sebuah pertemuan. pertemuan itu bisa saja menjaid perpisahan sementara dari sebuah waktu. tidak bisa menyalahkan keseluruhan kepada waktu. karena waktu tak bisa kita salahkan. waktu sudah berusaha sedemikian rupa untuk berputar dan mempertemukan kita dalam sebuah pertemuan. yah, pertemuan yang dimaksud ini adalah pertemuan dengannya. dalam sebuah pelatihan yang luarbiasa kita bertemu dan berusaha saling memberikan gagasan baru untuk Indonesia. agaknya lucu sekali jikalau pertemuan itu kita buat menjadi pertemuan yang berkesan menyedihkan. bukankah setiap pertemuan itu bersifat bahagia? kenapa kita malah membuat pertemuan itu menjadi sangat menyedihkan? ayolah untuk bisa senantiasa membuat pertemua itu menjadi sangat menyenangkan. matahari saja selalu menanti waktu dimana bisa bertemu dengan bumi, bulan saja selalu menanti waktu untuk bisa bertemu dengan bintang. lalu, kenapa kita nggan untuk bertemu dengannya?
ah aku tahu sahabat, kita masih malu dengan diri ini yang masih harus bnyak belajar lebih darinya. bisa saja waktu berkata lain. tenang kamu tidak perlu men-dikte waktu harus A dan B. karena bahwasanya waktu tidak akan pernah berkompromi dengan kita, sahabat. Jadikan momment pertemuan kita dengan semua orang selalu istimewa. apalagi bertemu denganNya? wah kalau iktu aku tidak bisa berkata yang lain, sahabat.. :D
Magelang, 04 januari 2016
Jumat, 11 Desember 2015
ini kisahku: Harus bergerak!
Harus bergerak
Oleh: Muhammad Afiff Galang Ristyantoro, S.Pd
kadang hidup tidak selamanya berkisar kebaikan saja. tidak tahu dan mungkin kita pura-pura untuk tahu bahwasanya hidup ini hanya sekedar mencari sebuah kehidupan. Padahal sejatinya manusia diciptakan memiliki sebuah nilai dalam setiap kehidupannya. layaknya sebuah kereta api. akan senantiasa untuk terus bergerak dan terus bergerak hingga sampai tujuam. Walaupun harus berhenti setidaknya berhenti ditempat semestinya berhenti. Sahabat, kita ketahui juga kadang dalam sebuah perjalanan kita harus merasakan pahitnya sebuah kebaikan dari seseorang. Kadang juga harus menikmati sebuah kepahitan kehidupan. jalani dan hadapi. Bukankah Allah menciptakan makhluknya untuk memberikan kebermanfaatan bagi semuanya. Lalu kenapa kita harus takut terhadap sebuah kehidupan. Oke, kita boleh menangis merengek, tertawa terbahak-bahak, kita boleh takut bahkan kita harus berani. Namun, kenapa kita masih mudah untuk selalu terduduk dian ketika harus diterpa masalah. Hidup ini bukan hanya sekedar untuk mengurusi nasib yang masih belum bisa kita terka, sahabat. Hidup kita bukan hanya sebatas untuk sekedar menikmati segelas susu hangat yang kita rasakan dipagi hari. Masih banyak hal yang bisa kita lakukan walau hanya sekedar berkumpul membersamai sahabat-sahabat kita di caffe yang kita sukai. Kadang kita harus merasakan jatuh dari sebuah perjalanan kita agar kita tahu apa yang membuat kita jatuh dan terluka. Kadang kita perlu sedikit rehat sejenak menyenangkan hati atau membuat pesta kecil untuk membahagiakan hati walaupun sendiri sebagai bentuk apresiasi terhadap diri sendiri. Lanjutkan bergerak, kapal kehidupan ini harus tetap bergerak. Jangan sampai kapal ini berhenti bahkan karam. Sebesar apapun gelombang laut yang dihadapi, kapal ini harus senantiasa kokoh berdiri tegak di lautan. Walaupun ada penumpang yang harus di dek kapal sekalipun, kapal ini harus tetap bergerak. Sulit memang jika kita harus melawan gelombang besar tersebut. Namun, ketahuilah kapal ini harus terus bergerak menuju tujuan yang sudah kita sepakati bersama.
Kita harus terus bergerak, sahabat...
walaupun kita tahu akan ada orang yang terjatuh...
walaupun kelak kita harus terpisah jauh...
walaupun mungkin ada yang menyakiti kita...
walaupun ada yang menusuk kita dari belakang...
walaupun banyak hal yang mungkin tidak bisa diungkapkan...
karena do'a adalah komunikasi 3 arah antara aku, kamu denganNya.
Kita harus bergerak Sahabat.
walaupun kita tahu akan ada orang yang terjatuh...
walaupun kelak kita harus terpisah jauh...
walaupun mungkin ada yang menyakiti kita...
walaupun ada yang menusuk kita dari belakang...
walaupun banyak hal yang mungkin tidak bisa diungkapkan...
karena do'a adalah komunikasi 3 arah antara aku, kamu denganNya.
Kita harus bergerak Sahabat.
Teruntuk kamu yang ingin terus bergerak.
Minggu, 14 Desember 2014
Duhai Wanita..
Bismillah...
assalamu'alaikum wr wb,
Sebagai wanita, kadang aku tidak mengerti dengan makhluk bernama wanita. Ada berjuta warna tentang wanita. Ada wanita yang amat menjaga kehormatannya, setengah hati menjaga dan ada pula yang menjual kehormatan tanpa harga. Ada wanita yang merasa amat terhina saat dipandang sedemikian rupa oleh lelaki, ada yang biasa saja, bahkan ada yang senang dan bangga.
Dari cara berpakaian pun ketahuan, mana wanita yang menghargai dirinya sendiri, mana yang tidak. Wanita yang menutup seluruh badannya kecuali muka dan telapak tangan dengan pakaian longgar tentu sangat berbeda dengan mereka yang menutup seluruh auratnya dengan kain transparan dan ketat membentuk tubuh. Amat berbeda juga dengan yang membiarkan bagian tubuhnya terbuka dan terlihat.
Duhai wanita, benar-benar aku tak mengerti. Bukankah telah datang padamu pengetahuan tentang cara berpakaian yang datangnya dari Sang Pencipta? Di zaman sekarang rasanya tak mungkin engkau tak tahu. Bukankah pengajian dan majelis taklim pun bertebaran di sekitarmu? Di masjid, mushola, rumah tetangga, televisi, radio, koran, majalah dan masih banyak sumber informasi lainnya. Bukankah saat engkau keluar rumah, amat mudah dijumpai wanita yang menutup aurat dengan benar? Tak pernahkah engkau berpikir dan bertanya-tanya dalam hatimu, mengapa mereka seperti itu dan engkau tidak? Bukankah engkau dan ia sama-sama wanita? Sama-sama memiliki keindahan kulit dan tubuh yang menarik bagi lawan jenis.
Duhai wanita, engkau adalah makhluk amat indah. DiciptakanNya perasaanmu selembut salju. Jadi tutupilah auratmu secara benar dan utuh, tidak minimalis seperti bangunan rumah yang siapapun bebas menatap keindahannya.
Minimalis, karena selain muka dan telapak tangan masih engkau tampakkan keindahan bagian yang lain. Masih engkau tampakkan bayang-bayang tubuh dan rambutmu dibalik kain kerudung dan baju yang dipakai. Masih terlihat lekuk-lekuk tubuhmu karena ketatnya pakaian yang menutupi badan. Masih engkau perlihatkan auratmu di sekitar rumah, karena engkau hanya menutupinya saat pergi-pergi saja. Engkau masih menganggap pakaian taqwa seperti mode, yang perlu dihias disana sini hingga menarik perhatian, yang hanya dikenakan saat kuliah, sekolah, kerja, belanja ke pasar dan aktifitas yang jauh dari rumah lainnya.
Duhai wanita, apa sebenarnya yang menghalangimu untuk berhijab sempurna? Yang semata dilakukan karena Allah, bukan yang lain. Yang dikenakan hanya untuk mematuhi perintah Allah, bukan yang lain. Bukan agar tampil lebih menarik, modis, keren, dan mengundang decak kagum siapa pun yang memandangnya.
Berhijab karena Allah, adalah berhijab sesuai dengan yang Allah kehendaki. Bukan “semau gue” tanpa aturan. Bukan pula “asal-asalan” tanpa pedoman. Karena berhijab adalah bagian dari kewajiban. Bernilai ibadah, yang berpahala jika dilaksanakan dan berdosa bila ditinggalkan.
Bila tanpa aturan, maka muncullah berhijab modern sebagai bagian dari mode yang berubah-ubah mengikuti trend pasar. Berkerudung namun tipis dan tak sampai menutupi dada. Berkerudung tapi masih pake baju transparan ala Korea. Berkerudung tapi bercelana pensil amat ketat hingga terlihat jelas bentuk pinggul dan kaki. Berkerudung tapi baju amat ngepress di badan seperti ketupat. Sungguh, berhijab model begitu tidak seperti yang Allah kehendaki. Allah menghendaki seorang wanita mulia, terjaga dan terlindungi. Dan itu hanya akan ada kala sempurna berhijab mengikuti aturanNya yang tertuang indah dalam Alquran.
Allah berfirman dalam surat An Nuur ayat 31, “Dan hendaklah mereka menutup kain kerudung hingga ke dadanya.” Demikian juga Allah berfirman, “Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al Ahzab: 59)
Sungguh, aku juga semakin tak bisa mengerti kala melihat perilaku kaumku dalam pergaulan. Sudah bukan rahasia lagi, betapa banyak wanita yang telah menyerahkan kehormatan yang sesungguhnya amat tersembunyi hingga hamil di luar nikah. Tak bisa dibayangkan, yang letaknya amat rahasia saja hilang apalagi yang tidak. Pacaran seperti sudah menjadi bagian gaya hidup. Tidak keren jika tidak pacaran. Merasa ketinggalan jaman dan kuper jika tidak pacaran. Menganggap tak mungkin bisa menikah tanpa didahului proses berpacaran. Tak disadari bahwa pacaran sesungguhnya sama saja dengan membuka pintu lebar-lebar bagi setan untuk memasuki dan menggoda lebih dalam lagi.
Pacaran, sangat terlarang dalam Islam. Sebab, pacaran sesungguhnya merupakan sebuah akifitas mendekati zina. Terbukti saat pelaku pacaran berubah menjadi berbadan dua. Jelas terlihat pacaran adalah sebuah pelampiasan syahwat. Hanya untuk mencari kepuasan dan kenikmatan. Pelan namun pasti, bisa menjerat dua anak manusia yang sedang terkena panah asmara untuk semakin dekat dengan zina sesungguhnya. Mulanya zina hati, zina mata, zina tangan, zina kaki hingga mana kala godaan setan semakin tak terbendung akhirnya jadilah zina yang sebenar-benarnya.
Duhai wanita, jawablah dengan sejujurnya. Bagaimana perasaanmu kala engkau telah tersentuh oleh lelaki yang bukan suamimu? Menyesal? Senang? Atau bangga? Pernahkah engkau memikirkan bagaimana perasaan kedua orangtuamu? Putri yang sejak kecil disayang dan dijaga dengan segenap hati, begitu mudah menyerahkan kehormatan pada sembarang lelaki. Lelaki yang tak menghargaimu dan tak punya harga diri, menyentuh wanita dengan cara hina dan rendah seperti binatang. Tanpa kemuliaan ijab qabul yang membuat orangtua meneteskan air mata bahagia. Hanya untuk sebuah kesenangan sesaat, yang akan menjadi noda sepanjang hidup. Nikmat membawa sengsara dunia akhirat.
Bukankah kelak engkau pun ingin menjadi seorang ibu? Seorang ibu yang dibanggakan anaknya. Bukan seorang ibu yang bahkan tak tahu siapa bapak anaknya. Bukan menjadi seorang ibu yang tidak pernah menikah sebelumnya. Bukan juga seorang ibu yang gagal berkali-kali menggugurkan buah cinta terlarangnya. Bukan pula seorang ibu yang hamil duluan sebelum pernikahan berlangsung.
Duhai wanita, tahukah engkau apakah sesungguhnya tujuan penciptaan kita? Allah berfirman, ” Tidaklah aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepadaKu.” (TQS Ad Dzariyyat 56). Jadi sepanjang nafas kita, Allah memerintahkan kita beribadah. Menyandarkan semua ucapan dan perbuatan pada hukumNya. Salah satu ibadah antara lain adalah menuntut ilmu Islam. Hukumnya wajib, agar manusia tahu apa saja kewajiban/perintah yang Allah bebankan pada kita. Supaya paham, apa saja larangan Allah untuk hambaNya. Supaya mengerti apa yang benar dan salah dalam pandanganNya. Ilmu adalah bekal langkah manusia. Ilmu itu laksana pohon, yang akan berbuah jika diamalkan, ilmu tanpa amal ibarat pohon yang tidak berbuah, sedangkan amal tanpa ilmu ibarat menanti buah tanpa adanya pohon.
Duhai wanita, berjilbab sempurna adalah kewajiban. Setiap muslimah mau tidak mau, suka tidak suka wajib mengenakan ketika keluar rumah ataupun saat ada pria ajnaby/asing. Sedangkan berdua-duaan dengan lelaki tanpa muhrim adalah laranganNya, apalagi bila sampai berpegangan tangan, berciuman bahkan lebih dari itu, jelas haram. Perintah dan larangan Allah wajib dipatuhi. Tak ada tawar menawar. Tak ada alasan apapun untuk menolaknya. Allah yang menciptakan kita lebih tahu, bahwa manusia dengan segala potensi yang dianugerahkanNya pasti mampu dan sanggup menjalankannya.
Duhai wanita, sadarlah dan segera bertaubat. Jangan engkau anggap akan hidup selamanya. Jangan engkau merasa masih jauh dari kematian hanya karena usia masih muda. Hidup hanya sementara di dunia. Pada akhirnya, cepat atau lambat hidup akan berakhir. Tak ada lagi “aku” di dunia ini. Hilang sudah semua kenikmatan. Yang ada hanya badan yang terbujur diam. Tak lagi bisa tersenyum, tertawa, bercengkerama, berdoa mohon ampunan dan rahmatNya, serta segala hal yang bisa dilakukan saat masih hidup. Tak ada lagi kesempatan untuk menaati segala perintahNya. Tak lagi ada waktu untuk menjauhi seluruh laranganNya.
Jadi tunggu apalagi. Mumpung kesempatan masih terbentang. Mumpung kita masih bisa bernafas. Laksanakan segala kewajiban dan jauhi semua larangan sekarang juga. Kesempatan milik kita hanya hari ini, esok lusa masih rahasia. Belum tentu kita masih tetap dianugerahi Allah indahnya mentari. Sesungguhnya Allah amat senang dengan hambaNya yang bertaubat, melebihi kebahagiaan seorang ibu yang menemukan anaknya yang hilang.
Ingatlah satu hal duhai wanita, hidup akan dimintai pertanggungjawaban. Jadilah wanita cerdas yang memikirkan kehidupan setelah kematian. Kelak Allah akan mempertanyakan pada kita segala hal tentang pilihan perbuatan. Rosulullah bersabda, ”Tidak bergeser kaki seorang hamba sehingga ia akan ditanya tentang empat perkara (yaitu)a1) Tentang umurnya untuk apa ia habiskan?; (2) Tentang ilmunya untuk apa ia amalkan?; (3)Tentang hartanya darimana ia dapatkan dan kemana ia belanjakan?; dan (4) Tentang badannya untuk apa ia gunakan?. (Sunan At-Tirmidzî).
Duhai wanita, engkau akan semakin cantik jika bermetamorfosa menjadi seperti kupu-kupu. Dari ulat dan kepompong menjadi kupu-kupu yang indah di hadapanNya. Wallahu’alam.
Oleh : Nayla Ridla, MSi ( Penggiat CIIA/The Community of Ideological Islamic Analyst Devisi Kajian Sosial Budaya )
Langganan:
Postingan (Atom)
Semua dan Segalanya
karena sejatinya manusia hadir dunia saling berpasangan. Itulah yang Allah beritahukan kepada manusia melalui Al-Qur'an. Bahwa setiap in...
-
hay sahabat,, lama tidak nulis di blog ini. udah berdebu dan banyak jaring laba-labanya. hehehehe oke sob, tulisan kali ini kita berceri...
-
Dunia saat ini sedang berada dalam kondisi yang amat sangat memprihatinkan. Adanya epidemi yang luarbiasa yang mampu menyihir masyarakat...
-
aku mau bergerak, aku ingin menjalankan semua yang aku sudah tulis. aku ingin menjalankan semua yang sudah aku pikirkan. aku ingin berger...

