Senin, 02 September 2013

fragmen; menyambut takdir merah jambu (tholabul 'ilmy #2)

A: Ga ngerti soal begituan. Aku masih kelewat polos kalau bahasan dewasa begitu 
B: Kamu angkatan 200x kan? Sudah masuk usia paham soal fiqih nikah loh itu. 
A: Lagi ga terlalu memikirkan fiqih nikah dulu. 
B: Ga memikirkan bukan berarti ga mau belajar. 
A: Soalnya belum kepikiran sampai ke sana juga sekarang. Padahal sudah banyak yang nawarin proposal gitu. Cuman aku bilang, belum waktunya. 
B: Belajar fiqih nikah ga harus nunggu kalau sudah mau nikah kok. Temenku, nikah umur 23 tahun tapi belajar fiqih nikah sejak umur 18 tahun. Itu aja terhitung telat banget. Cabangnya fiqih nikah banyak, belajar ilmu parenting salah satunya, nah ilmu parenting ini yang ga gampang.  
A: Nah itu dia, nunggu dikasih hidayah Allaah deh. 
B: Semangat yak! Ya anggaplah sekarang amanah di organisasi jadi salah satu sarana untuk menguatkan karakter jadi orang tuanya.

Sepenggel obrolan saya pagi tadi dengan seorang teman sangat menarik untuk dibahas. Saya jadi ingin share soal "pendidikan pra nikah". Sensitif banget ya? Itu buat orang yang sensian saja sih sebenernya. Untuk yang sadar akan kebutuhannya, bahwa suatu hari dia akan menikah tentunya bakal masuk gigi 4 kecepatan penuh semangatnya untuk menimba ilmu; tentang bagaimana menciptakan keluarga yang sakinah mawaddah warahmah penuh berkah dari Allaah.

Kenapa ilmu seputar pernikahan harus dipersiapkan jauh-jauh hari? Kita hitung saja usia manusia rata-rata mengikuti usia Rasululullaah SAW. Rasulullaah SAW menikah pada usia 25 tahun dan wafat pada usia 63 tahun. Itu artinya selama kurang lebih 38 tahun usianya beliau habiskan untuk membangun rumah tangga. 25 tahun beliau hidup sendiri dan 38 tahun beliau hidup dengan keluarga yang dibangunnya. Menikah bukan soal main-main, maka benar jika dikatakan menikah adalah penggenapan setengah dien. Ada banyak kekuatan do'a yang insyaaAllaah akan lebih mudah untuk terijabahi dengan sempurnanya dien kita. Salah membangun rumah tangga, maka menyesalnya tidak hanya di dunia saja tapi juga akan sampai di akhirat. Allaahu a'laam bishohwaab #kayak udah pernah nikah aja ini ngomongnya :D

Mbak Asma Nadia pernah berkata, "Jangan menikah hanya karena jatuh cinta. Karena rasa jatuh cinta akan menghilangkan semua-mua yang seharusnya dipersiapkan untuk bekalnya."

Di sebuah Kajian Majelis Jejak Nabi yang diselipin materi pra nikah, Ustadz Salim A. Fillaah berpesan, "Jatuh cinta jangan sampai menjadikan kita lupa pada 5 persiapan untuk mempertanggung jawabkan perasaan kita. 5 persiapan yang bukan hanya dipersiapkan ketika menjelang masa pernikahan tetapi juga sepanjang hidup kita."

1. RUHIYAH
Jika menikah adalah menyempurnakan setengah agama, maka mari kita lihat pada diri kita bagaimana kini kita menjalankan yang setengah sekarang ini. Apakah sudah setengah kurvanya? Jika belum bagaimana bisa siap menanggung yang setengahnya lagi. Think. Ini jangan dijadikan kekhawatiran untuk lantas takut memulai maju ke jenjang yang lebih tinggi. Jadikan ini sebagai motivasi untuk menjaga keistiqomahan mendapatkan yang terbaik di yaumil akhir nanti. Allaah pengeksekusi terbaik kapan waktu yang tepat. 

Saya jadi teringat di kelompok melingkar pekanan kami pernah membahas soal surat An Nuur ayat 24,"Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula)."

Atas ayat itu tidak jarang ada yang berkaca diri kemudian risau, bahkan pernah ada teman saya yang berkata seperti ini kepada saya, "Aku dikasih jodoh apapun sama Allaah terima saja, sudah syukur banget aku kalau dikasih jodoh. Aku orangnya masih sembarangan kayak gini, ibadah saja ga beres, masih sering melakukan perbuatan yang pasti tidak disenangi Allaah. Dikasih jodoh pelacur sekalipun aku ga apa-apa." 

Allaah..

Jangan berprasangka buruk dulu atas masa depan yang belum pasti. Serius, Allaah itu Maha Baik-nya luar biasa. Pahami ayat tadi dengan hati; .salahnya, kita - manusia sering kali berorientasi pada hasil, bukan pada prosesnya. Maka ketika kita mendapatkan seseorang yang agama, akhlak, kepandaian, nasab, fisiknya baik jangan lantas merasa sudah cukup dengan itu. Merasa diri wah aku laki-laki/ perempuan yang keji nih, pasti Allaah ngasih jodoh yang keji juga. Yang baik dengan baik belum tentu bisa mengakhiri pernikahan dengan khusnul khotimah, yang buruk dengan buruk bisa jadi mendapatkan khusnul khotimah di yaumil akhir. Karena menikah adalah proses belajar sepanjang hayat. 

Ibarat pesan untuk orang yang baru menikah, "Selamat mengarungi bahtera rumah tangga." Ya, perjalanannya baru akan dimulai, menikah bukan perhentian terakhir tapi justru kapalnya baru mau berangkat. Selamat atau tidak tergantung nahkoda dan navigatornya. Ganbatteeeee! Hosh! Selamat sampai tujuan ya! #dadah dadah ke yang baru nikah :D

2. TSAQOFIYAH
Belajar salah satu contohnya lewat membaca-baca buku tentang ta'aaruf, pernikahan, mendidik anak, dan sebagainya, seharusnya bukan sesuatu hal yang tabu. Meski mungkin kerap di cie-cie, di ehm-ehm, digoda; just stay cool Mas, Mbak. Secara, ketika sudah menjalananinya nanti kita belum tentu akan ada waktu untuk belajar lagi. Bahkan kalau pesan Ustadz Salim, harusnya membaca buku seputar pendidikan pra nikah itu sejak kelas 1 SMP, wew! 

Ayah saya bahkan sejak saya masuk kuliah sudah membekali saya dengan buku pendidikan pra nikah. Kata beliau, "Sudah waktunya kamu untuk belajar soal nikah, ayah ga ridho, ga mau punya anak yang menjalin hubungan pacaran apalah namanya". Waktu itu sambil cengengesan saya godain beliau, "Cieeeee ayah sudah pingin punya menantu sama cucu ya!" #anakusil :D

3. JASADIYAH
Siapa yang pingin punya banyak anak? Saya pernah diceritain tentang seorang nenek berusia 62 tahun yang pada tahun 2005 beliau pensiun setelah 40 tahun mengajar. Beliau memiliki 19 anak; 16 anak kandung dan 3 anak angkat (anak yatim). 15 anak pertama lahir 15 tahun berturut-turut, anak ke 16 lahir 5 tahun sesudah anak ke 15. Tidak ada anak yang kelaparan. Beliau mulai belajar mengajar sejak usia 12 atau 14 tahun. Menikah pada usia 18 tahun. Dan ketika ada program KB beliau tidak mau ikut #well okay #elus-elus perut.

Salah satu persiapan penting untuk menikah adalah persiapan jasadiyah. Kalau mau punya banyak anak seperti ibu di atas, maka bersiap-siaplah wahai para calon ibu (Ini hanya dalam kasus anak ya, belum bicara tentang tugas-tugas rumah tangga sehari-hari. Biasa nyuci baju laundry? Makannya beli terus? Kosan dibersihkan sama tukang bersih-bersih? Kalau lagi mudik ke rumah, coba magang jadi IRT deh, take over seluruh pekerjaan ibu di rumah. Uwow banget pokoknya! Jempols!)

Para calon ayah juga nih, siap-siap bekerja dengan ikhlas, keras, dan cerdas untuk menafkahi istri dan putra putrinya kelak. Semoga senantiasa dimudahkan rezekinya dengan cara yang halal, semenjak dini dimudahkan untuk menjauhkan rezekinya dari segala hal berbau riba, agar menjadi berkah untuk generasinya. Aamiin wal iyyaa dzubillaah :)

4. MA'ALIYAH
Buat para ikhwan, bagaimana pun persiapan ma'aliyah itu penting. Ketenangan finansial kata lainnya. Bagaimana kalau nanti calon istrinya minta mahar mobil Alphard gress? Ahahay, ga sebegitunya juga sih ya :D

Pembahasan untuk poin ini sebenarnya sangat banyak. Tapi intinya, masalah finansial juga merupakan salah satu yang perlu dipersiapkan. Nah, untuk para calon ibu, mari latihan manajemen keuangan. Karena nantinya kita bakal jadi ibu-ibu DPR, Dewan Pinansial Rumah; seumur hidup mengarungi bahtera rumah tangga bukan sekedar untuk masa jabatan 5 tahunan. Kita akan sering dimintai proposal-proposal pengajuan dana dari anak-anak, bakal menyusun anggaran rumah tangga jangka panjang maupun pendek, bakal menjadi petugas brankas suami, seputar itu.

Karena kata Ustadz Salim, "Rumah tangga kadang bermasalah bukan karena tidak terampil mendapatkan uang, tapi karena tidak terampil dalam menghabiskan uang."(bold italic underline!)

5. IJTIMA'IYAH
Ini tentang bagaimana kita hidup bermasyarakat. Secara, kita tidak pernah tahu akan dijodohkan Allaah dengan orang mana. Maka, persiapan untuk terampil bergaul secara sosial menjadi sangat penting. Pun kalau kita jodohan sama tetangga sebelah rumah, pun setelah menikah tinggalnya hanya di sebelah rumah (bukan berarti di garasi/ kandang ya :D ); tetap saja ada banyak hal dalam masyarakat yang harus dipelajari, hal-hal yang menjadi berbeda antara sebelum dan setelah menikah.

Bagian yang lumayan berat; menikah adalah membuat basis bagi diri, pasangan, dan anak-anak. Agar dapat menjadi pondasi-pondasi masyarakat yang kuat. Nah, karena tak semua keluarga memiliki kesadaran untuk membangun pondasi yang kokoh, maka bagi yang sudah sadar memiliki tanggung jawab untuk menyadarkan yang belum. Saya melihat ini pada beberapa rumah tangga sukses para da'i-da'iyah di sekitar saya. Mereka yang telah "beres" dengan rumah tangganya, Allaah lanjut menguji dengan membebani mereka masalah-masalah rumah tangga orang lain yang membuat mereka ikut andil untuk menyelesaikannya, jadi tempat curhat sana sini.

Itu 5 hal yang harus disiapkan. Masih dari Ustadz Salim lagi, kriteria seseorang siap menikah bukan karena ekspektasi tapi obsesi. Ekspektasi artinya menginginkan pasangan dan kehidupan ideal pasca menikah, sebagai contoh (ambil diri sendiri saja): saya ingin sekali menikah dengan Maher Zain (soalnya beliau suaranya keren, seneng punya suami suaranya keren, ngelatih perkembangan otak anak cukup didengerin aja suara ayahnya yang lagi tilawah. Ganteng pula. Ya Allaah :') ) #bangun Dhian sudah Dhuhur, insap :D

Nah, maka dari itu jadikanlah menikah sebagai obsesi. Dimana tekad yang ada adalah menjadikan diri dan keluarga bersama-sama menjadi lebih baik, lebih bermanfaat, lebih shalih, berjaya dunia dan akhirat :')

Ada sebuah pesan keren dari Ustadz Salim, "QS. Ar Ruum ayat 21 dan An Nuur ayat 26 menyiratkan konsep kesejiwaan dalam hal jodoh. Dan kesejiwaan terjadi ketika ruh-ruh saling mengenal, dan mereka saling mengenal karena ikatan IMAN."

Dan juga pesan super dari sahabat saya, "Saat ini aku tidak terlalu mengharapkan pernikahan di dunia, yang sangat aku harapkan adalah pernikahan di syurga."

Ya, kematian sangat jauh lebih dekat dari apapun rencana kita. Selamat mempersiapkan diri menyambut segala takdir. Termasuk dia yang pasti, kematian.

020913
DHian Nurma Wijayanti
UNS-ForumIndonesiaMuda#14

Rabu, 14 Agustus 2013

Bersikap ‘Iffah’ – lah terhadap Syahwat Perut dan Kemaluan


syahwatBetapa banyaknya manusia yang tergelincir ke lembah kehinaan, akibat tidak dapat menjaga nafsu perut dan kemaluan. Mereka menjadi budak perut dan kemaluannya. Mereka dikatakan sebagai binatang ternak oleh al-Qur’an, karena hidupnya hanyalah mengikuti hawa nafsu yang bersumber dari perut dan kemaluannya.
Manusia yang sabar dan dapat menahan diri dari syahwat perut dan kemaluan disebut dengan iffah. Manusia yang memiliki iffah, dan sabar atas segala bentuk syahwat, terutama yang berasal dari syahwat perut dan kemaluan akan menjadi manusia yang memiliki iffah yang tinggi, sehingga Allah akan selalu menjaganya, dan diselamatkan dari segala kehinaan di dunia dan akhirat.
Manusia yang sudah menjadi budak syahwat perut dan kemaluan itu, dia akan kehilangan rasa malunya, dan tidak lagi sensitif terhadap perbuatannya, serta membiarkan dirinya bergelimangan dengan dosa. Rasa iffah menjadi sirna dan pupus, tak ada lagi yang tersisa dalam dirinya. Kebaikan yang tersisa di dalam dirinya punah seketika, dan selalu bangga dengan dosa dan kedurhakaannya yang dilakukannya terhadap Allah Azza Wa Jalla. Semuanya itu merupakan buah dari sifatnya yang sudah dikendalikan oleh syahwat perut dan kemaluan.
Manusia yang sudah dikendalikan hawa nafsunya akan selalu berkeluh kesah, yaitu dengan meperturutkan hawa hafsunya, dan terkadang dengan melepaskan amarahnya dengan suara yang tinggi. Ini repleksi dari amarah dan nafsu yang sudah tidak terkendeali lagi oleh orang-orang yang sudah dikendalikan hawa nafsunya. Terkadang berbuat melanggar batas-batas yang sudah ditentukan oleh Allah Ta’ala, dan berbuat dengan kianat, serta membabi buta, dan kehilangan kontrol atas dirinya.
Dalam kehidupan yang paling berat bagi manusia, terutama yang dibutuhkan kesabaran, saat manusia itu dalam kondisi kecukupan secara materi. Manusia yang tercukupi secara materi sangat berat mengendalikan hawa nafsunya. Karena yang sering terjadi ialah manusia yang tercukupi secara materi dengan sangat mudah ditundukan oleh syahwat perut dan kemaluan. Orang-orang yang secara materi kecukupan akan selalu terdorong melalukan perbuatan maksiat. Menjadi lupa diri. Banyaknya materi yang dimiliki itu, sering membuat orang menjadi tidak sabar. Kemudian terjungkal ke dalam perbuatan yang durhaka kepada Allah.
Kekayaan yang dimiliki digunakan untuk memenuhi syahwat perut dan kemaluan. Akal dan lamunan terus mengerogoti jiwanya yang kosong, dan menyebabkannya berangan-angan panjang, terutama untuk memenuhi syahwat perut dan kemaluannya. Karena itu, orang-orang yang tercukupi secara materi itu, berubah manjadi manusia yang sombong (al bathr), dan tidak mau lagi mengingat Allah, yang telah memberikan kenikmatan kepadanya berupa rezeki yang banyak. Tetapi, rezeki yang diterimanya itu, justru menciptakan bala’ (malapetak) dan musibah bagi dirinya dan kehidupan.
Orang-orang yang dapat sabar dengan segala bentukan kenikmatan dunia, serta harta dan aksesoris dunia disebut dengan zuhud. Artinya, dia tidak bergeser sedikitpun keimanan kepada Allah Azza wa Jalla, atas segala bentuk kenikmatan dunia, dan tidak dapat terpengaruh terhadap segala iming-iming kenikmatan dunia, dan memilih lebih menjaga dirinya dengan penuh waspada, sehingga dia memilih kehidupan akhirat, tanpa sedikitpun terpengaruh kehidupan dunia.
Kebanyakan akhlak keimanan masuk ke dalam sabar. Karena itu, ketika pada suatu hari Rasulullah shallahu alaihi wa sallam, ditanya tentang iman, beliau menjawab, “Iman adalah sabar”, sebab kesabaran merupapakan pelaksanaan keimanan yang paling banyak da paling penting. Sebagaimana Rasulullah shallahu alaihi wa sallam pernah bersabda, “Hajji adalah Arafah”.
Allah telah menghimpun semua bagian dalam bab sabar, yang merupakan pokok dalam keimanan. Dan yang paling penting lagi lagi bersikap iffah, dan tidak terperosok ke dalam perbuatan yagn menimbulkan akibat rusaknya iman.
وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاء والضَّرَّاء وَحِينَ الْبَأْسِ أُولَئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ
“… Dan orang-orang yang sabar dalam musibah, penderitaan dan dalam peperangan, mereka itulah orang-orang yang benar imannya, dan mereka itulah orang-orang yang bertaqwa.” (QS. al-Baqarah [2] : 177)
Musibah bukan hanya menghadapi bencana dan penderitaan dalam peperangan, tetapi musibah bisa terjadi dalam diri manusia, ketika manusia sudah diliputi kenikmatan dunia, dan kemudian dikendalikan oleh syahwat perut dan kemaluannya, dan manusia tidak dapat lagi mengendalikan dirinya diantara perut dan kemaluannya, maka manusia terjerumus ke dalam bentuk kehidupan binatang, dan tanpa akal serta malu. Wallahu’alam. (Ms/Red)

memahami makna Idul Fitri

Salah dalam memahami makna idul fitri

Oleh: Al-Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat Hafizhahullaah
Pada setiap kali menjelang Idul Fithri seperti sekarang ini (Ramadhan 1412H) atau tepat pada hari rayanya, seringkali kita mendengar dari para Khatib (penceramah/muballigh) di mimbar menerangkan, bahwa Idul Fithri itu maknanya -menurut persangkaan mereka- ialah “Kembali kepada Fitrah”, Yakni : Kita kembali kepada fitrah kita semula (suci) disebabkan telah terhapusnya dosa-dosa kita.
Penjelasan mereka di atas, adalah batil baik ditinjau dari jurusan lughoh/bahasa ataupun Syara’/Agama. Kesalahan mana dapat kami maklumi -meskipun umat tertipu- karena memang para khatib tersebut (tidak semuanya) tidak punya bagian sama sekali dalam bahasan-bahasan ilmiyah. Oleh karena itu wajiblah bagi kami untuk menjelaskan yang haq dan yang haq itulah yang wajib dituruti Insya Allahu Ta’ala.
Kami berkata :
Pertama
“Adapun kesalahan mereka menurut lughoh/bahasa, ialah bahwa lafadz Fithru/ Ifthaar” artinya menurut bahasa : Berbuka (yakni berbuka puasa jika terkait dengan puasa). Jadi Idul Fithri artinya “Hari Raya berbuka Puasa”. Yakni kita kembali berbuka (tidak puasa lagi) setelah selama sebulan kita berpuasa. Sedangkan “Fitrah” tulisannya sebagai berikut [Fa-Tha-Ra-] dan [Ta marbuthoh] bukan [Fa-Tha-Ra]“.
Kedua
“Adapun kesalahan mereka menurut Syara’ telah datang hadits yang menerangkan bahwa “Idul Fithri” itu ialah “Hari Raya Kita Kembali Berbuka Puasa”.
“Artinya :Dari Abi Hurairah (ia berkata) : Bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:
الصَّوْمُ يَوْمَ تَصُومُونَ وَالْفِطْرُ يَوْمَ تُفْطِرُونَ وَالْأَضْحَى يَوْمَ تُضَحُّونَ
“Shaum/puasa itu ialah pada hari kamu berpuasa, dan (Idul) Fithri itu ialah pada hari kamu berbuka. Dan (Idul) Adlha (yakni hari raya menyembelih hewan-hewan kurban) itu ialah pada hari kamu menyembelih hewan”.
[Hadits Shahih. Dikeluarkan oleh Imam-imam : Tirmidzi No. 693, Abu Dawud No. 2324, Ibnu Majah No. 1660, Ad-Daruquthni 2/163-164 dan Baihaqy 4/252 dengan beberapa jalan dari Abi Hurarirah sebagaimana telah saya terangkan semua sanadnya di kitab saya "Riyadlul Jannah" No. 721. Dan lafadz ini dari riwayat Imam Tirmidzi]
Dan dalam salah satu lafadz Imam Daruquthni :
“Artinya : Puasa kamu ialah pada hari kamu (semuanya) berpuasa, dan (Idul) Fithri kamu ialah pada hari kamu (semuanya) berbuka”.
Dan dalam lafadz Imam Ibnu Majah :
“Artinya : (Idul) Fithri itu ialah pada hari kamu berbuka, dan (Idul) Adlha pada hari kamu menyembelih hewan”.
Dan dalam lafadz Imam Abu Dawud:
“Artinya : Dan (Idul) Fithri kamu itu ialah pada hari kamu (semuanya) berbuka, sedangkan (Idul) Adlha ialah pada hari kamu (semuanya) menyembelih hewan”.
Hadits di atas dengan beberapa lafadznya tegas-tegas menyatakan bahwa Idul Fithri ialah hari raya kita kembali berbuka puasa (tidak berpuasa lagi setelah selama sebulan berpuasa). Oleh karena itu disunatkan makan terlebih dahulu pada pagi harinya, sebelum kita pergi ke tanah lapang untuk mendirikan shalat I’ed. Supaya umat mengetahui bahwa Ramadhan telah selesai dan hari ini adalah hari kita berbuka bersama-sama. Itulah arti Idul Fithri artinya ! Demikian pemahaman dan keterangan ahli-ahli ilmu dan tidak ada khilaf diantara mereka.
Bukan artinya bukan “kembali kepada fithrah”, karena kalau demikian niscaya terjemahan hadits menjadi : “Al-Fithru/suci itu ialah pada hari kamu bersuci”. Tidak ada yang menterjemahkan dan memahami demikian kecuali orang-orang yang benar-benar jahil tentang dalil-dalil Sunnah dan lughoh/bahasa.
Adapun makna sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa puasa itu ialah pada hari kamu semuanya berpuasa, demikian juga Idul Fithri dan Adl-ha, maksudnya : Waktu puasa kamu, Idul Fithri dan Idul Adha bersama-sama kaum muslimin (berjama’ah), tidak sendiri-sendiri atau berkelompok-kelompok sehingga berpecah belah sesama kaum muslimin seperti kejadian pada tahun ini (1412H/1992M).
Imam Tirmidzi mengatakan -dalam menafsirkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas- sebagian ahli ilmu telah menafsirkan hadits ini yang maknanya :
“Artinya : Bahwa shaum/puasa dan (Idul) Fithri itu bersama jama’ah dan bersama-sama orang banyak”.
Semoga kaum muslimin kembali bersatu menjadi satu shaf yang kuat berjalan di atas manhaj dan aqidah Salafush Shalih. Amin!
[Disalin dari kitab Al-Masaa-il (Masalah-Masalah Agama)- Jilid ke satu, Penulis Al-Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat, Terbitan Darul Qolam - Jakarta, Cetakan ke III Th 1423/2002M; dari almanhaj]
 
 
 
Wassalam,
 

Senin, 29 Juli 2013

sepenggal kisah saudaraku

Rehat sejenak membaca media..
Krisis kemanusiaan sedang melanda..
Dunia sedang beretorika jahiliyah saja..
Dulu Afghanistan, Suriah, dan Palestina..
Kini Mesir pun jadi saksi nyata..
Legitimasi sah dirampas paksa..
Aksi damai memakan ratusan korban jiwa..

Tangan2 kecil mengguncang saudaranya..
Saudara hilang sudah tak bernyawa..
Hilang oleh sniper bisu menembus kepala..
Timah panas tak urung menembus dada..
Gas air mata yang membakarpun begitu jua..
Dikendalikan oleh keserakahan kuffar yang membara..

Kelu lidah dan menetes jatuh air mata..
Hati bergejolak rintih tak kuasa..
Kemana hak asasi manusia?
Kemana keadilan yang didamba?
Kemana suara lantang pemimpin dunia?
Ada yang tertawa..
Ada yang kecut melepas suara..
Ada yang mengatakan itu urusan kalian saja..

Ingatkah kita, Mesir adalah negara pertama yang mengakui kedaulatan Indonesia?
Ini bukan sebatas balas jasa pelengkap adab beretika..
Ini bukan sebatas harakah, negara, dan agama..
Ini bukan sebatas obrolan Mesir terdengar sayup di telinga..
Ini adalah urusan kemanusiaan di depan mata..
Apakah masih mau berpaling muka?
Apakah mata dan hati sudah tertutup rata?
Buka mata buka hati kita..
Ini adalah urusan kita, wahai manusia..

Untukmu pejuang kebenaran tercinta..
Di Rab'ah Adawiyah, An-Nahdhah, Al-ittihadiyah, Sinai, Alexandria, dan dimanapun engkau berada..
Kami yakin pertolongan Allah akan segera tiba..
Kami yakin Ramadhan ini akan berakhir taqwa..
Sungguh kami berlindung dari tipu daya dunia..
Sungguh kami berlindung dari panasnya neraka..
Berbahagialah kalian para perindu surga..
Mendapat kesudahan indah di dunia..
Mendapat kemenangan indah di akhir hayatnya..

‪#‎Mari‬ berdo'a untuk Mesir, Wahai Indonesia..
Copyright @AkbarShiddiq

Selasa, 23 Juli 2013

anak kader dan kader militan? (2)


|karena yang namanya buah jatuh itu tidak jauh dari pohonnya berada...|


setelah membaca sebuah artikel yang ditulis oleh saudari saya, Anak kader dan kader militan. Merinding ketika mendengar demikian. yah kita ketahui yang namanya anak kader pastinya adalah anak yang terlahir dari dua sosok manusia yang mengerti atau faham sebuah tarbiyah atau bisa disingkat dengan terlahir dari keluarga yang terkondisikan. hehehehe. pastinya keluarga yang terkondisikan selalu berusaha 

Mengkondisikan anaknya untuk bisa menjadi sosok manusia yang nantinya akan meneruskan reguloasi dakwah yang diajarkan sejak dini. dari yang namanya tilawah tiap hari bahkan 1 bulan sudah bisa khatam, puasa senin kamisnya lancar, daudnya juga mngkin terus jalan bahkan qiyamul lail dilakukan tiap hari dan ada juga yang menghafal al quran. itu dilakukan untuk bisa disiapkan agar bisa kelak akan menjadi seoang kader tarbiyah yang luarbiasa. ekstreamnya juga ada yang membaca buku terkait dunia tarbiayah dan melakoninya saat diusianya yang masih terbilang sangat muda. sapai dalam tataran teknis pun juga digeluti untuk isa dipersiapkan nanti. 

Yah begitulah sekilas terkait bagaimana sepak terjak persiapan dari seorang anak kader. yang katanya anak yang di istimewakan karena sudah memahami semua hal. yah, saya akui memang anak kader memang terbilang abnormal. mengapa?? karena apa yang dilakukannya sekarang, sudah pernah dilakukannya saat mungkin umurnya masih belia. dan anak kader mampu bergerak cepat dan bisa bergerak berlari dalam setiap aksinya dala berdakwah. terutama didunia kampus. banyak sekali kok anak kader yang tersebar di setiap kampus-kampus. tentunya anak kader dibebankan berbagai macam hal dari "rumah" untuk bisa di goal kan saat dia berada dalam dunia kampus. tidak jadi masalah, namun terkadang anak kader kurang bisa singkron dengan kondisi lingkungan yang kadang kala malah menjadi batu sandungannnya untuk bisa beranuver disana.

Setelah saya banyak berdiskusi dengan beberapa teman-teman saya. ada beberapa klasifikasi anak kader itu sendiri.
1. anak kader penggerak
Dalam hal ini dia memiliki langkah gerak yang benar taktis dan strategis. dia membuat narasi dan sbuah renstra yang mungkin tidak bisa dilakukan oleh teman-teman kader lainnya. bahkan mungkin pengalaman yang dimiliki sudah memumpumi banyak dia mampau menganalisa dari berbagai macam sudut pandang setiap masalah. bahkan permasalahan yang amat detail. dan tentunya ortunya sudah mendidikanya dari bayi hingga dia dewasa. sehingga peberian asupan tarbiyah dzatiah, tsaqofah keilmuan dan amalan yaumi'ahnya lancar. dan tentunya juga kader penggerak juga bisa memobilisasi massa untuk bisa melakukan apa yang telah dinarasikannya. 
2. anak kader singkat
Hampir sama dengan yang gerakan, namun yang membedakannya adalah sang anak mengenal dunia tarbiyah ketika dirinya masuk dala lebaga pendidikan yang memperkenalkannya dunia tarbiyah disana. taruhlah seperi pesantren. sehingga dari orang tuanya pun menyadari kekurangan dalam dirinya akan agaa yang dimilikiknya. orang tuanya lebih menempa ririnya untuk bisa menjadikan dirinya yang memahami tentang pentingnya dunia islam. ikut sebuah majelis, liqo, mendengarkan ceramah. semua dilakukan untuk bisa mengikuti irama perkembangan si anak tersebut yang sudah mendapat dunia tarbiyahnya saat didunia pendidikannya. baik itu SMP,SMA maupun perkuliahan. tapi, tidak menutup kemungkinan juga sang orang tua tidak demikian. sang anka kader singkat juga memiliki kapasitas yang memumpuni dalam setiap pemikiran dan gerak juga tidak kalah militannya dengan kader penggerak. namun, yang memedakannya adalah dalam setiap gerakannya dia masih menyisipkan sebuah pemikiran ego nya yang masih menggunakan istilah salah atau benar.
3 anak kader kecewa
Ini adalah salah satu hal yang sering terjadi dalam sisi anak kader sendiri. ortunya sudah mendidiknya dalm dunia tariyah. bahkan dididik pada usia yang masih belia. namun, karena lingkungannya yang kurang bisa mendukungnya atau lingkungan kurang bisa menjaga dan seimbang denga pola pikir atau gerakannya. akhirnya sang anak tersebut akan terlepas dengan sendirinya. dan mungkin akan bisa menjadi seorang rival yang benar-benar menakutkan daripada seribu kader militan.

Setelah kita mengetahui klasifikasi dari anak kader sendiri apakah sama dengan kader militan?? saya katakanh denga tegas SAMA..!! yang membedakannya adalah asupan gizi yang didapat ada drinya yang didapat saat dia belajar. jadi istilah pribahasanya sekali mendayung, satu dua tiga pulau terlampaui. begitulah. tidak ada pembeda dalam setiap gerakan. karena esensi dari sebuah tarbiyah adalah bagaimana kita bisa belajar tentang koreksi diri kita. mungkin saja kapasitas dan kapabilitas yang dimiliki seorang anak kader aat luarbiasa, tapi kita belu tahu juga penilaian Allah terhadap kader militan. hal buruk yang dimiliki anak kader sendiri adalah kurangnya jiwa tawadhu pada dirinya. saking pintarnya kadang anak kader sering menggampangkan atau menyepelekan sebuah perasmalahan. tidak banyak sekali anak kader yang deikian akan di blacklist dari jamaahnya. 

Bahkan saya salut sekali kepada kader militan yang benar-benar militan untuk terus belajar dan terus mencoba memberikan yang terbaik dalam setiap dakwah ini. tentunya kita sebagai seseorang yang diberikan anugrah yang lebih bisa menjadi panutan atau memberikan bantuan kepada teman-teman yang lain. Saling rangkul satu sama lain. saling share satu sama lain. berikan yang terbaik kepada setiap saudara kita tanpa melihat dari sebuah strata tersebut.setidaknya ada sebuah istilah bergerak individu hanya akan kita menyetorkan nyawa kita kepada musuh secara pasrah atau bunuh diri. lain cerita jika bergerak bersama Insya Allah apapun penghalang yang akan dihadapi akan terlewati. satu mudah dipatahkan, sedangkan bersama sukar untuk dipatahkan. ^_^. toh, juga nantinya insya allah akan bertemu di JannahNya bersama-sama. ^_^

So, bukan tittle kita sebagai anak kader atau bukan. karena yg menjadi parameter penialaian Allah SWT adalah TAQWA. barangkali anak kader memiliki kadar ketaqwaaan yang sedikit ketimbang kader militan, begitu juga sebaliknya.jangan merasa rendah jika diri kita bukan anak kader karena baik anak kader maupun bukan kita tetap sama-sama belajar. bedanya anak kader memberikan pelajaran, dan kader ilitan mendapatkan banyak sekali pelajaran dari anak kader tersebut. saling bersinergi satu sama lain

hanya sedikit ulasan saja terkait dilematika anak kader dengan kader militan. afwan jika terjadi salah kata pada pengetikan. ini hanya analisis kecil dari sesosok manusia yang terlahir dari rahim seorang ibu yang luarbiasa.

Senin, 22 Juli 2013

Tanyakan Dirimu, untuk apa saja waktu engkau gunakan?

DALAM Islam, waktu itu adalah amal sholih. Waktu itu bukanlah uang seperti kata sebuah adagium, time is money. Di sini, amal sholih menjadi tujuan utama, bukan materi. Bukan berarti Islam anti-uang. Akan tetapi yang lebih tepat kita katakan, uang/materi menjadi sarana untuk beramal sholih, bukan tujuan utama (big goal). Jika uang menjadi big goal, maka materialisme menjadi pemahaman kita. Adagium“time is money”, adalah prinsip kaum materialism.

Orang yang tidak memanfaatkan waktu-waktu luangnya, oleh al-Qur’an disebut sebagai orang yang merugi.
أَن تَقُولَ نَفْسٌ يَا حَسْرَتَى علَى مَا فَرَّطتُ فِي جَنبِ اللَّهِ وَإِن كُنتُ لَمِنَ السَّاخِرِينَ ﴿٥٦
“Supaya jangan ada orang yang mengatakan, ‘amat besar penyesalanku atas kelalaianku dalam (menunaikan kewajiban) terhadap Allah, sedang aku sesungguhnya termasuk orang-orang yang memperolok-olokkan (agama Allah).” (QS. Al-Zumar: 56).

Orang merugi adalah orang yang tidak memanfaatkan aktifitasnya untuk kehidupan abadi, yaitu hidup setelah mati. Betapa kita terlalu lalai memanfaatkan aktifitas mulya ini.

Berapa lama kita membaca al-Qur’an atau membaca buku-buku. Bandingkan dengan lamanya kita duduk di warung kopi dan trotoar jalan, sekedar ngobrol, ngerumpi dan menghabiskan waktu luang. Berapa jam kita menonton TV dan tidur. Bandingkan dengan lamanya kita beribadah. Berapa lama pula kita
 meeting bisnis, bandingkan dengan berapa lama kita duduk di majelis ilmu dan majelis-majelis mengingat Allah. Sungguh banyak waktu yang terlewat sia-sia.

Penyesalan dalam ayat tersebut karena lalai menunaikan kewajiban Allah dan memandang rendah agama Allah. Dua hal tersebut disebabkan waktu yang tidak dimanfaatkan dengan baik atau waktu luang digunakan untuk hal yang tidak baik.

Lebih berbahaya lagi jika waktu disia-siakan untuk mengerjakan perbuatan yang dimurkai-Nya. Jadi, dalam managemen waktu, ada dua pilihan; menyibukkan dengan kebenaran dan menyibukkan dengan perkara yang dimurkai. Waktu kosong yang digunakan untuk hal-hal yang tidak berguna, pada akhirnya akan mengantarkan kepada kegiatan-kegiatan yang dimurkai.

Imam al-Syafi’i pernah mengatakan:
 “Jika Anda tidak menyibukkan diri anda dengan kebenaran, maka ia (waktu) akan menyibukkan Anda dengan kebatilan.”

Oleh sebab itu, dalam pengisian waktu sesungguhnya terjadi pertempuran sengit antara setan dan hati kita. Hal yang paling penting untuk menjaga kehidupan kita adalah menyusun rencana-rencana dan program yang akan mengisi waktu. Dan tidak memberi sedikitpun celah kepada setan untuk ikut beraktifitas dalam sela-sela waktu kita.
Jika kebenaran yang menguasai celah-celah dalam waktu kita, maka ia akan membangkitkan potensi yang terpendam dalam diri manusia. Sebaliknya jika kebatilan jadi penguasa waktu, maka tunggulah kerusakannya.
Bagaimana belajar memangemen waktu? Bagi awam dan pelajar pemula, para ulama’ memberi petunjuk sederhana, yaitu mendisplinkan shalat tepat pada waktunya. Sesungguhnya amal ibadah yang efektif dalam mendidik disiplin waktu itu shalat jama’ah tepat pada waktunya.

فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلاَةَ فَاذْكُرُواْ اللّهَ قِيَاماً وَقُعُوداً وَعَلَى جُنُوبِكُمْ فَإِذَا اطْمَأْنَنتُمْ فَأَقِيمُواْ الصَّلاَةَ إِنَّ الصَّلاَةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَاباً مَّوْقُوتاً
Allah berfirman: ”Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalatmu, ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. Kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah shalat itu. Sesungguhnya shalat itu adalah fardlu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Nisa’: 103).

Disiplin shalat lima waktu bisa menjadi media pembelajaran memanfaatkan waktu sebaik-baiknya. Kita bisa mendidik diri atau anak dan murid kita dengan ini. Sesudah shalat, diisi dengan dizikir dan membaca al-Qur’an.

Jika kita mampu mengatur waktu ini dimulai dengan disiplin shalat, maka lambat laun ibadah-ibadah lainya akan tertunaikan dengan disiplin. Inilah yang disebut Allah sebagai orang yang tidak merugi.

Allah Subhanahu Wata’ala menyebutkan sifat-sifat orang yang beruntung, yaitu mereka yang mampu menjaga waktunya dengan beriman dan beramal sholeh.

وَالْعَصْرِ
إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ
إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْ

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal sholih serta saling menasihati supaya mentaati kebenaran dan saling menasihati supaya menetapi kesabaran.” (QS: Al-‘Ashr: 1-3).

Dalam ayat ini kita bisa menarik pelajaran penting mengenai waktu. Yaitu isilah waktu itu dengan empat hal; menjaga iman, mengerjakan amal sholih, menasihati dalam kebenaran dan menasihati dalam kesabaran.
Tidaklah Iman itu akan bisa menjadi benar kecuali dengan ilmu. Karena ilmu merupakan cabang dari iman tersebut dan tidak sempurna iman seseorang kecuali jika dia memiliki ilmu. Oleh karenanya, mengisi waktu luang dengan menambah ilmu itu sangat mulia.

Amal sholeh yang mencakup semua kebaikan, mulai dari kebaikan yang bersifat dzahir hingga kebaikan yang bersifat
 bathin, dimana hal itu berkaitan dengan hak-hak Allah dan hak-hak hambanya baik hal-hal yang hukumnya bersifat wajib ataupun yang bersifat anjuran.

Aktifitas lain yang penting adalah saling menasehati dalam hal kebenaran dan kesabaran. Ketika sedang ngobrol dan duduk-duduk santai, alangkah baiknya digunakan dengan mengucapkan kalimat-kalimat nasihat, mendorong saudara dan teman untuk memperbaiki kualitas kehidupan. Menasehati untuk bersabar dalam menjalankan ibadah. Sabar dalam menuntut ilmu dan menghadapi tantangan kehidupan.

Dari situ kita bisa menyimpulkan bahwa waktu itu adalah amanah Allah yang diembankan kepada manusia. Kita pasti akan pasti akan diminta pertanggungjawabannya di akhirat kelak.
Simak sabda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wassalam ini: “Tidak akan beranjak kaki seorang hamba di akhirat kecuali setelah ditanya tentang empat perkara; ditanyakan tentang umurnya lalu bagaimana ia menggunakannya dan ditanyakan kepadanya tentang ilmu yang didapatkannya lalu apa yang dilakukannya dengan ilmu tersebut, ditanyakan kepadanya tentang harta yang ia dapatkan dari mana ia mendapatkannya dan kemana harta itu dibelanjakan dan ditanyakan kepadanya tentang jasadnya lalu kemana dipergunakannya.” (HR.Tirmidzi, hadis shohih).

Pantas saja Imam Fakhruddin al-Razi begitu menghargai waktu setinggi-tingginya. Tiada celah sedikitpun ia berikan untuk hal-hal yang tidak berguna. Ia pernah mengatakan:
 “Demi Allah, sungguh aku sedih karena kehilangan banyak waktu kesempatan mempelajari ilmu di saat makan. Sesungguhnya waktu dan zaman itu mulya.”

Mengapa Hanya Risau Karena Dunia

“Yaa Rabb, wajah manakah yang  akan menghadapMu, sementara diri ini penuh aib dan dosa, dan lalai mempersiapkan kematian.”
Petikan tweet dari Ali Akbar, membuatku segera beristighfar, faghfirli..
 
Kematian. Satu kata yang seringkali membuat kita merinding  dibuatnya. Jika ditanya, siapkah  menghadapi kematian? Mungkin kita akan menjawab, saya belum siap, saya belum mempersiapkan , atau saya lalai mempersiapkan kematian…
 
Ah, kita selalu sibuk dengan urusan dunia, berlelah-lelah mengejar dunia, risau dengan urusan dunia…
Mengapa kita hanya sibuk dengan urusan dunia? Risau dengan dunia? Risau dengan rizki kita? Bukankah Allah Swt telah menjamin rizki kita? Tak risaukah kita dengan kehidupan akhirat kita? Mana persiapan kita untuk akhirat?
 
Faghfirli… Ampuni  Yaa Rabb…
 
 Mengingat-Mu, mengeja nama indah-Mu satu persatu…
Yang Maha Menghimpun (Al Jamii’),Yang Maha Menghitung (Al Hasiib) , Yang Maha Penuntut Balas  (Al Muntaqim…
Ya, kelak kita akan dihimpun, dan kita pun akan segera dihisab, diminta pertanggungjawaban oleh Allah!
 
“Pada hari ketika lidah, tangan, dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.” (Q.S An-Nur [24]:24)
 
Sejenak, kita berhenti mengejar dunia,  merenungi ayat-ayat-Nya, mengingat kematian..
 
“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati…” (Q.S Al Anbiyaa [21]:35)
 
“Dimanapun kamu berada kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu berada dalam dinding yang kokoh.” (Q.S An Nisaa [4]:78)
 
“…maka apabila ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan atau percepatan walau sedikitpun.” (Q.S An Nahl [16]: 61)
 
Allah Swt telah mengingatkan kita dalam firman-Nya:
“Mereka hanya mengetahui yang lahir saja dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai. (Q.S Ar-ruum [30]:7)
 
“Tidaklah kehidupan dunia ini melainkan kelengahan dan permainan. Dan sesungguhnya negeri akhirat, dialah kehidupansesungguhnya, kalau mereka memiliki pengetahuan pastilah mereka mengetahui.” (Q.S al-‘Ankabuut [29]: 64)
 
Mungkin inilah yang sekarang terjadi, kita sibuk dengan dunia, memeras otak, menguras energi,  untuk mencari harta dunia,  cinta dunia… Sementara kita lalaikan akhirat, kehidupan yang sesungguhnya, tempat kembali kita.
 
Padahal sungguh, perbandingan kenikmatan dunia dengan akhirat sangat sangat jauh, seperti setetes air dengan lautan…
 
Rasulullah Saw bersabda,  “Demi Allah, dunia ini dibandingkan akhirat ibarat seseorang yang mencelupkan jarinya ke laut; air yang menetes di jarinya ketika diangkat itulah nikmat dunia. (H.R Muslim).
 
Bahkan ketika ditanya, mukmin manakah yang paling cerdas? Rasulullah Saw menjawab, “Orang yang paling banyak mengingat mati, dan  paling baik persiapannya untuk kehidupan setelah mati. (H.R Ibnu Majah)
 
Suka atau tidak suka, siap atau tidak siap, kematian pasti akan menjemput kita. Segala harta benda, perhiasan dan kemewahan dunia yang selama ini begitu gigih kita kejar,  tak akan kita bawa.  Yang menjadi bekal kehidupan akhirat kita hanyalah amal shalih kita.
 
Sebelum kematian menjemput, mari kita bersungguh-sungguh mempersiapkan bekal untuk kehidupan setelah kematian. Karena hidup di dunia bukanlah untuk mencari dan mengumpulkan harta, tetapi hidup di dunia adalah ujian, untuk diketahui siapa yang terbaik amalnya. Semoga kita semua termasuk mukmin yang cerdas, yang kelak menerima  kitab catatan amal kita dari arah kanan.  Robbannaa atinaa fidun-nyaa hasanatan wa fil-aakhirati hasanatan wa qinaa ‘adzaaban-naar. Semangat beramal shalih.
 
Wallahu’alam  bishshawaab.

Semua dan Segalanya

karena sejatinya manusia hadir dunia saling berpasangan. Itulah yang Allah beritahukan kepada manusia melalui Al-Qur'an. Bahwa setiap in...