Senin, 22 Juli 2013

ini jalanku: Senandung Ukhuwah




Diawal kita bersua
Mencoba untuk saling memahami
Keping-keping dihati 
terajut dengan indah
Rasakan persaudaraan kita

Dan masa pun silih berganti
Ukhuwah dan amanah tertunaikan 
Berpeluh suka dan duka
kita jalani semua 
semata mata harapkan ridhoNYA


Sahabat tibalah masanya
Bersua pasti ada berpisah
Bila nanti kita jauh berpisah



Jadikan rhobitoh pengikatnya
jadikan doa ekspresi rindu
Semoga kita bersua disyurga

Sigma-Senandung Ukhuwah

Selasa, 02 Juli 2013

First trip to Padang: 28.05.2013


Alhamdulillah bisa diberikan kesempatan buat pergi ke ranah minang. Hal yang sudah ditunggu sekitar 3 tahun. Saat masih duduk dibangku SMA. Akhirnya tercapai juga :D hehehe, ,
Sebelumnya sekitar tanggal 28 Mei 2013. waktu terus berdetak. Saya lihat ternyata masih jam 3 pagi. Hehehehe. Maklum kalau ada maunya biasanya bangun pagi pun di hadapi dengan senang. Pada hari itu saya dan kesepuluh teman saya dari panitia Forum Indonesia Muda akan flight ke padang. Untuk menyelenggarakan kegiatan FIM14B. sebenernya agenda FIM14 sudah diadakan sejak bulan Mei lalu di cibubur. Namun, kali ini beda. Nuansa 1 Dekadenya FIM membuat FIM diadakan 2 kali dengan berkolaborasi dengan pihak kominfo dan yayasan Bung Hatta.
Saya terbangun pada jam 3 pagi. Saya beranjak dari kasur menuju kamar mandi untuk berwudhu dan melsayakan sholat qiyamul lail 4 rakaat dan witir 3 rakaat. Nyambi nunggu shubuh tilawah dulu beberapa lembar. Tidak lama kemudian pintu kamar orang tua terbuka. Dan umi keluar. Saya menyegerakan mandi, yah walaupun sejatinya rada dingin juga waktu itu. Hehehehehe. Saya mandi dan beres-beres pakaian. Saya pakai baju lengan panjang antisipasi di pesawat dingin dan tidak lupa membawa jaket tebal. Karena katanya di bukit tinggi cuacanya dingin. Kulihat jam menunjukkan pukul 04.35 WIB. Lalu saya dan bapakku segera menuju mobil. Pamitan dengan umi dan adik perempuanku. Dan capcus ke bandara Soekarno-Hatta. Kira-kira lama perjalanan dari rumah ke soekarno-hatta sekitar 20 menitan. Tapi, kami mampir dulu di mesjid di gading serpong untuk sholat shubuh. Sambil kontak-kontak teman-teman FIM. Selesai sholat shubuh. Saya dan bapak langsung berangkat ke bandara Soekarno-Hatta.
Penerbangan kami menggunakan maskapai penerbangan anak cabang dari tiger airways, mandala airways. Maskapai penerbangan tiger airways ternyata ada di terminal 3. dan bapak belum pernah ke terminal 3. jangan tanya saya juga, saya pergi ke bandara saja baru 2 kali. Ke semarang dan ke Padang ini. Yah jadi begitulah, padahal boarding passnya tinggal 10 menit lagi. Dan saya masih melaju. Tapi, akhirnya saya menemukan terminal 3. Ntah kenapa saya sangat bahagia dan ntah kenapa juga dada ini meletup-letup saat didepan mata adalah pintu masuk boarding passnya. Namun, sebelumnya teman saya uni Nadia menitipkanku 2 botol oksigen. Karena ternyata oksigen tidak diperkenankan dibawa ke pesawat, karena tekanan udara dipesawat bisa membuat oksigen meledak. Setelah melsayakan boarding pass saya masuk kedalam. Saya langsung memeluk saudarsaya dari papua namanya bang Jalil, beliau sekarang sudah lulus dari jurusan komunikasi di universitas di jakarta. Lalu Siro saudarsaya satu ini masih angkatan 2011 dia berasal dari cirebon dan kuliah di IKOPIN Bandung. Senangnya bukan main, setelah sekian minggu tidak bertemu dengan mereka berdua. Setelah meletakkan koper di trolli. Saya ikuti uni Nadia untuk pembayaran berat barang gitu deh. Hehehe. Setelah itu saya mencari saudara-saudarsaya yang lain. Daaaannnn..yup ketemu edaran pandanganku tertuju kepada sosok pria bertopi merah-putih dan bertulisan ”FIM14”. Saya langsung menemuinya dan sosok itu adalah kak Afdil. Beliau sekarang sedang menjalani Tesis di bandung. Beliau juga berasal dari jember. Senangnya bukan main, setelah itu saya melihat saudara-saudarsaya yang lain ada rona, rofi, teh nunuy dan kang huda, tidak lupa dengan adik kecil wafi anak dari pasangan teh nunuy dan kang Huda. Sedangkan kak Ichi dan Dini sedang sholat shubuh. Rasanya kebahagiaan ini benar-benar sangat amat nyata. Ditengah hiruk-pikuknya aktifitas di saya di Semarang membuat saya terasa bosan dengan keadaan disana. Namun, ntah kenapa saat bertemu dengan saudara-saudarsaya di Forum Indonesia Muda terasa beban itu sangat ringan bahkan hilang. :D
Kami flight dari bandara Internasional Soekarno-Hatta sekitar jam 06.40 WIB kepastian landing di Bandara Internasional Minang Kabau sekitar pukul 08.00 WIB. Setelah semua sudah beres kami bersebelas berjalan menuju tempat kami akan naik pesawat. Karena dirasa waktu kami terlalu cepat. Kami stay dulu di waiting room. Ada beberapa orang dalam rombongan kami ingin sholat shubuh dan ke toilet. Saya dan beberapa teman lainnya duduk saja melihat keadaan di waiting room. Sesekali bermain dengan Wafi. Hehehehhe. Setelah melihat sekitar jam 06.00 wib. Kami berjalan menuju bus yang mengantarkan kami ke pesawat yang akan membawa kami ke BIM. Setelah kami naik semua di bus berwarna merah ada logo dari maskapai penerbangan Tiger Airways. Bus melaju menuju ke sebuah burung besi. Kami semua turun dan menaiki tangga. Setelah masuk kedalam pesawat jantung saya berdegup amat kencang, wajar ini first flight saya menuju ranah minang. Saya memilih duduk dipinggir dekat jendela, karena ingin melihat pemandangan dari atas burung besi bersayap ini. Setelah dirasa waktu sudah menunjukkan pukul 06.40 wib. Pesawat mulai berjalan menuju tempat laju. Seiring pesawat bergerak para pramugari dan pramugara dengan sigap mempraktekkan dasar-dasar dari penggunaan sit belt, pelampung dan beberapa pintu darurat. Saya mengamatinya dengan seksama. Walaupun agaknya rada tsayat juga jika terjadi hal” yang tidak diinginkan. Bismillah aja, serahkan semuanya pada yang maha kuasa. Setelah peragaan untuk keamanan selesai. Selang beberapa menit kemudian semua penumpang diberitahukan untuk mengenakan sit beltnya karena pesawat akan take off. Setelah itu pesawat take off dari bandara Internasional Soekarno-Hatta. Saya melihat ke jendela luar kulihat kota tangerang dari atas seperti melihat sebuah maket rumah. Pokoknya sangat menyenangkan.
Tidak lama kemudian saya tertidur, karena lama perjalan 1 jam 15 menit. Setelah terbangun saya melihat ke jendela lagi. Tapi, yang kulihat hanyalah gumpalan awan saja -_-” kagak ada view. Namun, teman saya yang berada didekat jendela bagian kanan sangat takjub melihat padang dari atas. Saya ingin melihat namun, ada pemberitahuan kalau sebentar lagi kita akan landing di bandara Internasional Minang. Setelah landing ntah rasa apa yang saya rasakan saat itu. Dada terasa seperti meletup-letup saat kaki ini menapakkan pertama kalinya di ranah minang. Kulihat gendeng bandara yang berbentuk bengkok keatas dan lancip. Lalu saya dan teman-temanku berjalan menuju tempat pengambilan barang. Disana kami menunggu barang-barang yang diletakkan dibagasi. Setelah dirasa sudah semua kami semua berjalan keluar bandara. Ternyata kami disambut oleh keluarga FIM sumbar. Rasanya sangat bahagia ketika disambut oleh keluarga dari sumbar :D yeeeeaaayyy . . Pada saat itu yang menjemput adalah saudara saya Randa, Bang Denny, Vivi dan Yudhi. Mereka berempat datang untuk menjemput kami bersebelas. Hehehehe. Ketika melihat ternyata kita semua over dibarang-barnag yang kita bawa. Yaaaaah, berusaha dimuat-muatkan saja. Sampai-sampai salah satu teman saya vivi harus duduk dibagasi bersama barang-barang. Sedangkan saya, rofi, siro dan bang jalil berada dimobil yudhi dengan bang Denny. Yang lainnya berada dimobil Randa.
Selama diperjalanan saya diceritakan sedikit kondisi di Padang ini oleh Bang Denny. Sembari kulihat jalan-jalan sekitar padang yang ternyata masih masa rehabilitasi pasca gempa bumi tempo kemarin. Bagaimana ada rencana akan ada pemindahan pusat kota yang mulai menjamah kedekat bandara. Karena kulihat sepanjang perjalan dibandara agaknya agak sepi dan gersang. Yah saya berfikir mungkin ini adalah lintas Sumatra. Bang Denny juga menceritakan ada sebuah event besar di bulan Juni ini di Padang ada Tour de Singkarak, Dragon boat dll. Tapi, yang bergengsi tour de Singkarak karena acaranya tingkat internasional dan dihadiri oleh banyak negara. Pokoknya seru. Dan ternyata ada kota di padang ini yang sepanjang jalan ini ada tulisan Asmahul Husna, subhanallah luar biasa banget ditengah kota yang sedang berusaha berdiri kembali, payung hidayah selalu ada untuk kota Padang.
Rombongan kami berhenti diwilayah perkampusan UNAND. Disana rombongan perempuan menginap di rumah salah satu saura kami yang bernama vivi. Dia mahasiswi UNAND dan juga anak FIM 11. Setelah barang-barang milik perempuan diturunkan dari mobil. Kami sarapan dirumah makan tidak jauh dari kos-kosan vivi. Waktu itu masih ingat betul saat melihat menu makanan. Saya sempat bertanya sama vivi dan yudhi. Hehehehe, maklum orang jawa nyarinya makanan yang agak manis. Kalau tidak salah ada beberapa menu yang saya tanyakan. Seperti pical, jika di jawa namanya pecel. Lalu ampera atau bisa disebut juga rames. Saya memilih makan gulai lontong. Saya semeja dengan Uda Denny. Wah ternyata Uda Denny memesan sama seperti punysaya. Tapi, punya Uda Denny dicampur dengan sambel ala Padang. Katanya kalau tidak bisa pakai sambal ini kurang banget rasanya. saya hanya angguk-angguk saja. Saya malah mikir, lambung orang Padang terbuat dari apa yak?? Hehehehe. Setelah dirasa semua sudah sarapan. Saat bayaran semua makanan. Disinilah awal saya mendeklarasikan sebuah hal. Setelah ditanyakan menu makanannya. Uda Denny menanyakan kepada kami ”siapa yang pesan Tees??”. Saya dan beberapa rombongan saling memandang kebingungan. ”Apaan tuh Tees??” tanyaku. ”Kang, Tees apaan??” tanya Rofi kepada ku. Aku geleng-geleng kepala. Karena Uni Nadia sepertinya melihat kebingungan teman-teman rombongan Uni Nadia menjelaskannya. ”Tees itu maksudnya Es teh, lang”. Hooooooooo..Es teh disini namanya Tees ternyata. Kami semua tertawa karena kekonyolan kami di negeri orang ini. Uni Nadi hanya tertawa kecil saja melihat tingkah kami.
Setelah dirasa sudah makan kita kembali kepenginapan masing-masing. Untuk yang putri dirumah Vivi. Sedangkan yang laki-laki dirumah Uda Hafidz. Kebetulan yang menyetir mobilnya aku. Padahal aku belum tahu kondisi lalulintas Padang. Tapi, tak apalah, bismillah saja. Hehehehhe. Aku memacu kendaraan dengan kecepatan 40-60 km/jam. Maklum daerah baru, belum berani untuk tancap gas. Akhrnya sampailah dirumah Uda Hafidz. Beliau anak FIM#13. rumahnya besar dan ternyata dia hanya tinggal sendiri saja. Orang tuanya sedang pergi keluar kota. Kami semua menurunkan barang-barang dan istirahat sejenak dikamar yang telah disediakan.
Sore harinya saya beserta teman-teman laki-laki berangkat kembali menjemput teman-teman putri. Dan kami akan kumpul di spot yang telah ditentukan. Berkumpul di Universitas Andalas. Yup, ini kali pertamanya menginjakkan kaki saya di kampus yang benar-benar terletak dibukit. Hehehehe, maklum UNNES walaupun terletak dibukit, tapi nuansanya tidak seperti sedang dibukit ^^. Perjalanan di UNAND sangat amat berkesan gedung kampus yang seperti layaknya markas power ranger. Amat luarbiasa dan diselingi oleh pemandangan gunung dan kota Padang yang nampak terlihat dari atas. Seperti kampus dinegeri awan. Sesampai di UNAND kami bertemu dengan saudara sekamar saya saat FIM#12 kemarin. Namanya Dori dan Eep dari FIM#11. senangnya bukan main sudah 1 tahun tidak bertemu dengan saudara saya ini. Kami berjabat tangan dan berpelukan layaknya saudara yang telah lama tidak bertemu. Dan ada Uda Denni yang sedang melatih menari para mahasiswa bidik misi UNAND yang akan ditampilkan di acara MTQ nasional yang akan diselenggarakan di Padang. Setelah berkumpul beberapa dari kami ingin makan. Terutama saya. Ntah kenapa semenjak turun dari pesawat di Bandara Internasional Minang. Perut ini amat lapar. Akhirnya kami turun kembali untuk makan. Ditemani oleh saudara kami Yudhi sebagai guide. Setelah aku memarkir mobil. Aku dan teman-teman lainnya masuk kesebuah rumah makan. Tentu saja rumah makan padang hehehe. Aku memesan ayam bakar khas padang. Ternyata masakan rumah makan padang sendiri jauh berbeda dengan rumah makan padang pada umumnya saat saya di Jawa. Bumbunya khas dan berasa banget. Dirasa satu piring nasi kurang. Aku dan temanku rofi meminta nasi lagi, alias nambah. Hehehe. Kami juga dihidangkan sepiring kecil emping yang diberikan bumbu pedas. Hmmmm,,,enak sekali ternyata. Benar-benar pengalaman yang sukar untuk dilupakan.
Setelah dirasa sudah selesai kami semua kembali ke UNAND. Tentu saja sebelum masuk ke UNAND kami berfoto dulu di depan pintu gerbang UNAND. Hehehehe, padahal sya asendiri belum pernah berfoto dipintu gerbang kampus sendiri. Tapi, sudahlah. ^^. Setelah berfoto kami melanjutkan kembali ke gedung PKM UNAND yang terletak tidak jauh dari pintu gerbang UNAND. Kami semua sholat maghrib dan tidak lupa juga kami yang dari pulau jawa sholat jama’ isya. Setelah melakukan ibadah sholat kami siap-siap utnuk memberi logistik untuk persiapan FIM#14 di bukit tinggi nanti. Tidak lupa juga kami dipinjamkan lampu sorot beserta yang lainnya. Karena dirasa besar dan tidak muat akhirnya perkakas lampus sorot itu saya yang pangku didepan dan mobil yang nyetir Yudhi. Agaknya berat juga ternyata -_-.

Kami mencari logistik seperti figura, lakban, trash bag dan lain-lain. Karena tidak menemukan figura yang sesuai keinginan. Kami beli ditempat yang lain. Sesampainya di pasar swalayan kami semua menunggu teman kami Rona dengan Yudhi membeli figuranya. Setelah mendapatkan semuanya kami kembali ke penginapan kami masing-masing. 
Setelah kembali ke rumah Uda Hafidz, Uda Denni mengajak kami pergi ke jembatan siti Nurbaya. disana ada view laut yang bisa dilihat dari jemabatan dan dibawah jemabatan ada perahu-perahu yang sedang berlabuh disana. Aku yang membawa mobil pada saat itu. mobil Avanza hitam melaju dikeheningan malam kota Padang. ternyata kami melewati pesisir pantai. gelap tak terlihat, namun anginnya sejuk. hehehehe maklum anak gunung. ^^. Dan sampailah kami di Jembatan Siti Nurbaya. Subahanallah saya melihat kapal-kapal yang sedang berlabuh disana dengan taburan lampu yang menyala. wonderful view, guys. Disana kami ngobrol menikmati semilir angin malam di Jembatan Siti Nurbaya. subhanallah, hanya itu yang bisa saya ucapkan dalam hati yang terdalam ini. setelah itu  kami mengantarkan teman-teman perempuan kembali ke kosannya vivi. Lalu aku bertukar posisi denga Yudhi. Aku yang menyetir mobil dari kosan vivi ke kosannya Uda Hafidz. Suasana malam kota Padang amat dingin namun tentram. Aku bersyukur bisa diberikan kesempatan untuk pergi mengunjungi sebuah alam yang dilukiskan oleh Allah. Yahhh, ini baru hari pertama saya di kota Padang. Tidak sabar rasanya aku ingin menikmati Indahnya Padang. Maka nikmat mana lagi yang ngkau dustai??

To be continued...  

Senin, 01 Juli 2013

Integritas Pemimpin

Suatu hari Amirul Mukminin Umar bin Khatab RA membeli kuda dari seorang pedagang A'rabi. Selang beberapa waktu, ketika dituntun pulang, tiba-tiba kudanya pincang. Maka, kembalilah beliau menggugat pada si penjual kuda. 

Ia menuntut dikembalikannya uang karena tak ingin membeli kuda pincang. Karena masing-masing merasa tidak bersalah, baik Umar maupun penjual kuda bersepakat menunjuk hakim atau qadhi untuk menyelesaikan masalah mereka.

Keduanya kemudian menemui seorang pemuda yang terkenal objektif dan adil di Madinah. Setelah mendengar permasalahan dari keduanya, berkatalah sang pemuda, "Wahai Amirul Mukminin, saat kau menerima kuda apakah kakinya sehat atau sudah pincang?'' Umar pun menjawab, "Kakinya sehat dan tidak pincang."

Lalu sang pemuda memutuskan, "Kalau begitu, wahai Amirul Mukminin, engkau boleh mengembalikan kuda itu ke penjual dengan catatan, kaki kudanya harus sehat dan tidak pincang."

Umar tentu saja kaget, namun ia juga tak bisa menyembunyikan kegeliannya. Umar tertawa, seraya berkata, ''Semudah itukah memutuskannya?'' Sang pemuda menjawab tegas, "Ya, semudah itu."

Umar kembali tertawa dan berkata kepada sang pemuda, “Segera berkemaslah dan pergilah ke Bashrah (Irak). Kamu aku angkat menjadi Qadhi  (hakim) karena di sana banyak permasalahan pelik yang membutuhkan orang sepertimu untuk menyelesaikannya.''

Pemuda itu bernama Syuraih. Dalam sejarah, ia tercatat sebagai seorang hakim yang sangat fenomenal karena keputusannya mengalahkan dua Amirul Mukminin, yaitu Umar bin Khatab dan Ali ibn Thalib dalam sebuah persidangan.

Pelajaran berharga dari  kisah ini adalah integritas, baik dari sisi penggugat maupun sang hakim. Bisa kita bayangkan jika hakimnya tidak punya integritas yang tinggi, dia tidak akan berani mengalahkan sang superpower,  Amirul Mukminin, atau pemimpin.  Apalagi lawan tandingnya hanyalah rakyat kecil biasa.

Namun, yang juga luar biasa adalah integritas dari sang Amirul Mukminin Umar bin Khattab. Bagaimana dia mampu mengalahkan egonya sebagai seorang pemimpin dengan tidak memutarbalikkan fakta yang ada untuk kepentingan pribadinya.

Kata kunci untuk menjelaskan hal itu semua adalah karena rasa takutnya kepada Allah SWT. Rasa takut mereka karena didasarkan keimanan yang kuat. Rasa takutnya Syuraih sebagai hakim akan keputusannya adalah bila untuk kepentingan duniawi ia memenangkan sang khalifah. Demikian pula, takutnya Umar karena kalau ia menggunakan kekuasaan tanpa hak maka hal itu akan menzalimi orang lain hanya untuk kepentingan dirinya sendiri.

Mencermati kasus-kasus hukum dan korupsi di negeri ini,  sejatinya kita membutuhkan integritas dari para pemimpin, baik di eksekutif, yudikatif, maupun legislatif. Tanpa itu, keinginan untuk melihat tegaknya keadilan yang berujung pada kesejahteraan rakyat dan negara ini, seperti menanti hujan di musim kemarau.


Hiduplah Sebatas Hari Harimu

Oleh Syeikh Muhammad Al Ghazali
Galau, risau, Stress ?? 
Salah satu kesalahan manusia adalah menanggung beban masa depannya yang masih jauh pada saat sekarang ini. Bila seseorang berangan-angan maka pemikirannya beralih ke ruang tanpa batas, yang segera dipenuhi oleh bisikan, praduga dan kecemasan yang segera mencengkramnya.Keraguan dan kegelisahan  Itu semua akan menipu kita . Mengapa tidak hidup dalam batas harimu yang ini saja..
Psikolog Barat Dale Carnegi  telah meneliti sejumlah tokoh  sukses dari orang yang tidak terpengaruh masa depan tapi mencurahkan perhatian pada kondisi saat ini semata. Dengan cara yang cerdas ini hasilnya adalah keamanan bagi kondisi mereka saat itu dan sekaligus hari esoknya. Ungkapnya,” Kami tidak mengejar tujuan yang secara tiba-tiba terlintas dalam pikiran kami dari masa yang jauh. Kami hanya mengerjakan pekerjaan yang jelas dan nyata ada di hadapan kami hari ini ‘..nasihat dari seorang terkemuka di Inggris thomas Carlel.
Hidup dalam batasan hari ini menurut nasihat di atas sesuai pula dengan apa yang sudah dinasihatkan oleh Rasulullah SAW  “ Barang siapa bangun dipagi hari dengan hati tenang, badan yang sehat, memiliki makanan untuk hari itu, maka seakan-akan dunia telah ditundukkan seluruhnya kepadanya. (H.R. At Tirmidzi)
Jika telah terbit subuh, Khalilullah Ibrahim As  berdoa ,  “ Ya Allah ini adalah ciptaan (hari) baru, maka bukakanlah ia untukku dengan ketaatan kepadaMU dan tutupllah dengan ampunan dan ridha-Mu. Ya Allah berilah aku rezeki di dalamnya dengan penerimaan yang baik dariku , tumbuhkan dan lipat gandakan ia untukku, dan ampunilah untukku keburukan yang aku ketahui ada padanya. Sesungguhnya engkau Maha Pengampun, Maha Pengasih, Maha Penyayang ,  dan Maha Mulia,” Beliau berkata, “ Barang siapa yang berdoa dengan doa ini di pagi hari, maka ia telah mensyukuri harinya.”
Dalam keseharian Rasulullah SAW, beliau menunjukkah kebenaran cara ini dalam menata kehidupan, menghadapi setiap bagiannya dengan penuh semangat dan harapan baru. Apabila tiba waktu pagi Rasulullah berkata, “ Kami berada di waktu pagi, dan menjadilah kerajaan milik Allah. Segala puji bagiNya , tidak ada sekutu bagi Nya, Tidak ada Tuhan selain Dia, dan hanya kepadaNya tempat kembali.” Dan jika tiba waktu senja , beliau mengucapkan, “ Ya Allah , aku mendapati waktu sore dari Mu dalam kenikmatan, keafiatan dan perlindungan. Maka sempurnakanlah untukku nikmat Mu, ke’afiatan dari Mu dan perlindungan Mu di dunia dan akhirat…” (H.R. At Tirmidzi)
Sebagian manusia meremehkan pemberian Allah SWT kepadanya berupa keselamatan dan ketenangan diri dan keluarganya. Terkadang kelalaian besar ini semakin menjadi-jadi dan bertambah akibat hilangnya harta kekayaan dan kekuasaan. Sikap seperti ini sama halnya dengan lari dari kenyataan , merusak  agama dan dunia.
Konon, suatu hari seorang laki-laki bertanya kepada Abdullah bin Amir bin Ash, “ Bukankah aku ini termasuk orang miskin dari kalangan muhajirin?” Abdullah pun balik bertanya, “ Apakah engkau memiliki istri tempat mencurahkan kasih sayang? Dia menjawab , “ Ya.” Lalu Abdullah bertanya lagi , Apakah engkau memiliki rumah sebagai tempat tinggal ? Dia menjawab “ Ya.’ Maka Abdullah pun berkata” Engkau termasuk golongan orang kaya,” orang itu pun menambahkan “ saya juga memilliki seorang pelayan,” Lalu Abdullah berkata “ Kalau begitu engkau termasuk golongan Raja,” jawab Abdullah
Simak petuah Abu Hazim yang mengatakan “ sesungguhnya antara aku dan para raja itu sama-sama berada dalam hari yang sama. Hari kemarin sudah tidak mereka rasakan lagi lezatnya. Sedangkan esok hari , aku dan mereka sama-sama mengkhawatirkannya …Jadi yang ada hanyalah hari ini.” Sosok saleh yang fakir ini mengingatkan para raja dan bangsawan bahwa kelezatan hidup di masa lampau akan sirna bersama berlalunya hari.
Dengan demikian yang tersisa hanyalah “hari ini” dimana bagi orang yang berakal akan mengoptimalkannya pada setiap detiknya. Dalam bingkai “hari ini’ juga seorang yang mampu menata diri dan memantapkan tujuan akan berubah menjadi raja!
Hidup dalam batasan hari ini bukan berarti apatis dengan masa depan dan tidak mempersiapkan diri untuk menyongsongnya karena persiapan akan hal itu merupakan hal yang baik dan rasional. Hanya ada perbedaan antara perhatian dan kekhawatiran akan masa depan dengan menghadapinya secara berelebihan, juga ant  ara beraktivitas hari ini dan kecemasan tentang apa yang telah dipersiapkan untuk esok.  SO ? … just tawaqal kepada Allah
Pada hakikatnya , merasa cukup secara material, menerima dengan baik apa yang ada dalam genggaman dan tidak berpegang kepada angan-angan adalah inti dari kebesaran jiwa dan rahasia kemenangan atas berbagai krisis. Yaitu orang-orang yang tidak mengeluh atas kehilangannya, dan tidak merasa sombong bila karunia mendatanginya

Kamis, 23 Mei 2013

Memimpinlah dengan rendah hati

SETELAH diumumkan pengangkatannya menjadi khalifah, Umar bin Abdul Aziz menyendiri di rumahnya. Tak ada orang yang menemui, dan beliau pun tak mau keluar menemui seorang pun. Dalam kesendiriannya itu beliau menghabiskan waktunya dengan banyak bertafakkur, berdzikir dan berdoa. Pengangkatannya sebagai khalifah tidak disambutnya dengan pesta, tetapi justru dengan air mata kesedihan yang mendalam.
Sesudah genap tiga hari beliau pun keluar. Para pengawal di luar yang sudah lama menunggu siap menyambut kepada pemimpin yang baru. Saat para pengawal itu siaga memberi hormat, beliau malah mencegahnya.
“Kalian jangan memulai salam kepadaku, bahkan salam itu kwajiban saya kepada kalian.”  Inilah perintah pertama khalifah kepada pengawal- pengawalnya.
Kemudian, beliau menuju ke sebuah ruangan. Di sana tampaknya sudah banyak para pembesar dan tokoh berkumpul. Demi mendengar khalifah akan masuk, semua hadirin terdiam dan serentak bangkit berdiri memberi hormat. Apa kata beliau?
“Wahai sekalian manusia,” katanya, “Jika kalian berdiri saya pun berdiri, jika kalian duduk saya pun duduk. Manusia itu sebenarnya hanya berhak berdiri di hadapan Rabbul Alamin.”
Itulah yang dikatakan pertama kali kepada rakyatnya. Sikap pemimpin dalam Islam, sejatinya memang harus demikian. Sebagaimana kata Rasul, pemimpin adalah pelayan ummatnya.
Namun ini menjadi suatu hal yang istimewa karena pemimpin saat itu maupun saat ini sudah seperti seorang raja. Dan sebagai khalifah, Umar bin Abdul Aziz mewarisi budaya yang demikian itu; hidup dalam gelimang kemewahan dan kekuasaan. Namun beliau tidak serta merta meneruskan budaya yang sebenarnya menguntungkannya secara pribadi itu. Beliau menolak dihormati berlebihan. Beliau juga tidak mau hidup dalam kemewahan. Yang dipilihnya adalah sikap rendah hati dan kesederhanaan sebagai pelayan ummat.
Buka Hati
Sebagai pemimpin besar bersikap rendah hati, sederhana dan melayani, tentu tidak mudah. Apalagi bila kesempatan bermewah-mewah itu memang terbuka di depan mata. Siapa sih yang tidak tergiur menikmati kemewahan dan kekuasaan? Di negeri kita ini, sebuah kedudukan dan jabatan menjadi rebutan. Dan bahkan banyak yang rela mati-matian berkorban apa saja, dengan segala cara, untuk mendapatkannya. Dan setelah berhasil meraihnya, pertama kali yang dilakukan adalah pesta kemenangan. Dan kemudian segeralah digunakan aji mumpung. Bim salabimjadilah OKB (Orang Kaya Baru).
Gaya hidup dan pergaulannya sudah berbeda dari sebelumnya. Seolah menikmati kemewahan itulah yang menjadi impiannya.
Tetapi mari kita membuka hati ini. Dengan berbagai upaya dan gaya hidup mewah itu, apa sih sesungguhnya yang kita cari? Dengan mobil mewah, rumah megah, pakaian serba mahal, dari lubuk hati ini apa sih yang dirindukan? Mungkin terdetak dorongan;… hidup terhormat dan dimuliakan. Tentu mencapai hidup seperti itu suatu yang normal saja. Malah aneh kalau ada orang bercita- cita hidup terhina dan direndahkan. Tetapi benarkah kita dapat mencapai kemuliaan dan kehormatan itu dengan hidup berbungkus kemewahan? Coba sebutkan nama- nama orang yang menggetarkan hati karena kemuliaan dan kehormatan mereka. Cermati satu persatu.
Benarkah hati anda terkesan karena kemewahan mereka?
Mari kita bercermin kepada Umar bin Abdul Aziz. Kita tenangkan hati dan jernihkan pikiran sejenak. Andai beliau memilih cara hidup mewah dan bermain kekuasaan sebagaimana raja- raja yang lain, akankah memiliki nama harum seperti saat ini? Mungkin saja dengan kemewahan singgasana saat itu ia bisa membuat topeng kemuliaan itu di muka rakyatnya.
Tetapi berapa lama kemuliaan seperti itu bisa bertahan? Lihatlah para pejabat yang menyalahgunakan kekuasaan untuk kesombongan dan kemewahan. Bagaimana akhir kehidupan mereka? Masa tua tidak hidup damai, malah gundah gulana karena dijerat hukum.
Terbuktilah bahwa kemuliaan yang dibungkus materi hanyalah semu dan tipuan belaka. Sungguh Allah tidak menyukai orang- orang sombong. Yang Dia perintahkankan adalah berlaku sederhana dan lembut dengan sesama.
“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang- orang yang sombong lagi membanggakan diri. Dan sederhanakanlah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu.” (QS: Luqman: 18- 19)
Misi Mulia
Ya, memang tidak mudah untuk selalu rendah hati dan  memilih hidup melayani. Apalagi kalau kita terjebak pada dorongan biologis dan egoisme semata. Maunya justru dilayani. Kalau sedang memegang kekuasaan yang dipikirkan adalah apa yang dapat saya ambil dengan posisi ini, bukan kebaikan apa yang dapat saya berikan pada orang lain. Melayani dirasakan sebagai suatu kehinaan. Seolah yang harus melakukan adalah orang-orang rendahan. Padahal melayani inilah misi mulia yang sebenarnya diamanahkan Allah kepada hamba-Nya yang terpilih; Rasulullah dan orang-orang yang mengikuti jejak beliau. Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang berkenan memberi kehormatan pada manusia berperan serta menebarkan rahmat- Nya ke seluruh alam semesta.
“Dan tidaklah Kami mengutus kamu, melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam.” (QS: Al Anbiya’: 107)
Dengan berbagi rahmat, tersebarlah belas kasih dan kedamaian dalam kehidupan ini. Dalam bekerja, seorang pemimpin akan senantiasa berfikir bagaimana karyawannya sejahtera. Dan karyawan berfikir bagaimana ia bisa memberikan layanan terbaik melalui pekerjaannya.
Sebagai pemimpin keluarga, seorang ayah yang kasih sayang kepada keluarga dan anaknya, akan mengantar pada suasana sakinah. Sehingga anak-anaknya pun termotivasi meneladaninya dan berbakti kepada kedua orangtuanya. Setiap orang yang melayani dengan ikhlas berarti telah berpartisipasi menebar rahmat ke seluruh alam. Itulah tugas terhormat seorang pemimpin.
Dan setiap kita pada hakekatnya adalah pemimpin.  Setiap kalian adalah pemimpin, begitu tutur baginda Rasul dalam satu kesempatan.
Bila setiap orang berfikir minta dilayani, yang terjadi justru krisis. Pemimpin minta dilayani staf-stafnya. Majikan memeras para karyawannya.
Petugas memepersulit rakyat. Orientasinya bukan rahmatan lil alamin tetapi keuntungan pribadi.
Kekayaan alam yang mestinya untuk kesejahteraan rakyat malah dikuras habis untuk bermewah- mewah. Hutan digunduli akibatnya kerusakan dan banjir dimana- mana.
Malah rakyat yang menjadi korban. Akhirnya rakyat pun ikut- ikutan mengikuti para prilaku pemimpinnya; mencari keuntungan sendiri. Sudah kaya dan berkecukupan belum bersyukur malah berebut bantuan yang mestinya untuk fakir miskin. Bagaimana misi mulia itu bisa dilakukan dengan paradigma seperti itu?
Sungguh cara hidup seperti itu bukan kemuliaan yang akan kita raih, tetapi justru kehinaan. Bukankah itu yang saat ini banyak melanda kehidupan kita?
“Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang- orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi meraka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur- hancurnya.” (QS: Al Isra’: 16)

Agar mampu rahmatan lil alamin, kita perlu mentransformasi diri. Pusat diri yang sebelumnya egoisme dan hawa nafsu harus diganti dengan kebeningan nurani. 
    
Sumber Inspirasi
Bayangkan kalau ada orang yang rendah hati, menghormati sesama, dan suka melayani. Tidakkah hati anda menyukainya? Tidakkah Anda terkesan dengan keikhlasannya itu?
Orang yang demikian itu akan membahagiakan hati sesamanya. Kalau dia seorang bapak, keluarganya akan menghormatinya dengan tulus. Kalau dia seorang ibu, anak-anaknya tentu akan senantiasa merindukan. Kalau  dia seorang pemimpin, tentu akan menginspirasi hati sekalian rakyatnya.
Umar bin Abdul Aziz telah membuktikan bagaimana keberkahan rendah hati ini. Meski hanya dalam waktu dua tahun pemerintahannya, beliau membuat perubahan besar. Akhlak rakyatnya yang sebelumnya buruk, sejak kepemimpinannya berubah drastis menjadi baik.
Demi melihat pemimpinnya rendah hati dan teramat jujur itu, ummat terinspirasi. Yang menjadi pembicaraan heboh di berbagai sudut kota, warung sampai pinggiran ladang di desa, masalah iman dan amal shalih. Mungkin seperti keadaan kemarin yang semua orang berbicara tentang sepak bola dunia.
Masyarakat giat bekerja dan sejahtera. Bahkan kemakmuran di masa pemerintahannya mencapai puncaknya.
Rakyat berdaya ekonominya dan mereka berlomba menunaikan zakat. Fakir miskin terentaskan sehingga sangat sulit mencari orang yang menerima zakat.
Memberi dan memberi, itu yang menjadi paradigma mereka. Bukan meminta dan meminta.
“Jikalau sekiranya penduduk negeri -negeri itu beriman dan bertakwa, pastilah Kamai akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi.”(QS: Al A’raaf: 96)
Tidak hanya itu, suasana alam dan binatang digambarkan mendukung terhadap kemakmuran itu. Para gembala yang biasanya takut kambingnya terancam dimakan oleh srigala, saat itu kedua binatang ini seolah berteman saja. Pintu keberkahan di buka Allah bila manusia telah menunaikan tugas sebagai khalifah di muka bumi.
Atas prestasinya yang gemilang itu, tidak mengherankan jika beliau digolongkan sebagai Khulafaur Rasyidin ke lima setelah Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali.
Bukankah kemuliaan seperti itu yang kita rindukan?

ini jalanku:Come out of your comfortable zone


“…..Come out of your comfortable zone..” itulah kata-kata yang keluar dari perbincanganku dengan beberapa orang dalam sebuah acara di sebuah universitas ternama. Kata-kata itu keluar dengan lantang dan tegas. Ntah itu adalah suara hati nurani atau suara sumbang yang tertahan oleh lingkungan yang didomisili kehedonisan dunia.
Mahasiswa…seorang pelajar jenjang akhir. Memiliki banyak hal yang bisa dilakukan oleh seorang mahasiswa. Bukan berarti saat menjadi seorang siswa kita tidak melakukan apapun. Namun, lingkaran kontribusi memang terbuka lebar saat status kita adalah sebagai seorang mahasiswa. Namun, apalah arti sebuah status jika sejatinya itu hanya sebagai label formalitas kita saja. Kalau ternyata kita selalu berada dalam sebuah lingkaran kenyamanan yang membuat kita lupa dari sebuah esensi dari seorang mahasiswa.
James carter pernah menulis dalam sebuah bukunya “setiap orang memiliki hal yang sebenarnya bisa dikembangkan dan mungkin dilejitkan bagaikan roket yang meluncur. Namun, karena sebuah lingkungan yang menuntutnya untuk bersikap biasa-biasa saja. Maka selamanya dia akan menjadi seorang manusia robot”. Agaknya itu yang mungkin terjadi dalam kampusku ini. Edaran mataku tertuju oleh sebuah realita yang benar-benar membuatku penat. Memang bukan saatnya kita mengutuk kegelapan. Sudah saatnya kita menyalakan lilin harapan dan menerangi jalan yang ada.
Kurangnya perhatian seorang mahasiswa dengan gemerlapnya dunia yang mungkin melalaikan semua mimpi-mimpi yang tertulis terkatung saja dalam sebuah angan-angan indah, namun tidak ada ikhtiar dalam pencapaian kesana. Hmmmmmm..... memangnya kenapa sih kita harus keluar dari zona nyaman kita?? banyak sekali orang-orang yang bertanya demikian. Hmmm, begini... jika kita berada dalam sebuah kota. Atau suatu tempat yang membuatmu nyaman. Dan kamu berfikir ini adalah titik kenyamanan saya. Namun, niscaya mungkin itu bukanlah tempat anda untuk bernyaman ria. Ketika teman-teman anda sedang berusaha untuk mencapai impian yang ingin mereka capai. Seorang Billgates saja untuk bisa mengembangkan microsoftnya sampai di drop out dari kampusnya. Thomas alfa Edison saja dalam membuat bohlam lampu sampai mencoba 999 kali untuk bisa membuatnya. Melepaskan waktunya unutk terus eksperimen dan keluar dari zona kenyamanannya.
Kita banyak mengetahui berbagai macam orang yang keluar dari zona kenyamanannya. Terus, memangnya keluar dari zona nyaman itu yang bagaimana??. Keluar dari zona nyaman itu melakukan hal yangg tidak dilakukan oleh orang lain. Ketika orang lain sedang bermain kita mencoba untuk membaca literatur. Ketika orang-orang terenyuh dalam sebuah kesenangan dunia, kita berusaha untuk memanfaatkan waktu kita yang bermanfaat. Memang label orang aneh akan tertera pada diri kita. But, nope sejatinya tiap orang sudah ada yang mengatur garis takdirnya oleh Sang Maha Kuasa. Buat apa kita punya segudang potensi dan berbagai macam kemampuan yang lebih, malah kita pergunakan sia-sia. move on, guys. Take your dream. Don’t stay here without anything. Kita dikarunia tangan untuk bisa melakukan banyak hal. Kita memiliki kaki untuk terus melangkah, kita diberikan otak untuk terus berfikir dan menciptakan sebuah new breaktrough tapi, kita malah sia-siakan. Seperti quote dari teman-teman Green Force UNJ “BERGERAK ATAU TERGANTIKAN..!!!”

-Muhamad Afiff Galang Ristiantoro-
#MatahariUtara

Rabu, 15 Mei 2013

ini jalanku:EKSIS


Yah, disinilah saya berkembang. Memacu adrenalin dan mencoba untuk memadukan sebuah realita dengan teori yang ada. Terkadang letih selalu menghapiri bahkan malah nyangkut. Terkadang juga rasa kecewa menjadi sebuah tikaman kejam dari sebilah kata dari seseorang. Yah, aku masih sangat jelas mengingat perkataan tersebut yang sampai sekrang aku mash mencoba mencari jawabannya mengapa demikian. .
EKSIS adalah lembaga badan semi otonom yang berada dalam naungan FE UNNES. Ntah kenapa namanya EKSIS. Dicari kepanjangannya juga tidak ketemu. Sampai pda akhirnya dengan tingkat inisiatif yg tinggi dari setiap fungsionarisnya malah menjadikan EKSIS memiliki kepanjangan Ekonomi Rohis. Agak aneh juga sih ketika mendengar singkatan dengan kepanjangannya nggak singkron. Namun, apalah sebuah arti kalau itu malah membuat kita tidak bisa berkontribusi.
Hmmmmm...kira-kira aku sudah berada di EKSIS sekitar 3 tahun. Ntah ada berapa banyak agenda dan kejadian yang telah sya lewati di EKSIS. Yah, bersama dengan teman” garuda biro 2010 tentunya. Hhehehehhe. Aku masih sangat ingat sekali ketika awal masuk EKSIS saya berada di PP. Pengkaderan dan pembinaan. Dengar artinya aja udah merinding. Berarti nantinya kita menjadi leading gerakan pencerdasan fungsionaris EKSIS dan FE tentunya. Waktu itu kepala dept aku dipegang oleh mbak dian walid pend. Eko akuntansi 2008 dan sekdebnya mbak inah pend. Akuntansi 2009. sedangkan staffnya ada aku, febri, sahirin, dll. Agaknya aku lupa siapa aja punggawanya. Hehehehe.
Sejak itulah banyak hal yang dilalui. Dari yang namanya masak bareng yg akhrnya malah bikin makanan yg memaksa perut harus kompromi dengan WC. Maklum karena yang lebih pintar memaksa akhwatnya, dan bumbunya ikhwan yang meramu. Jadi wajar aja kalau perut jadi kompromi. Pokoknya ntah kenapa pada saat tahun awal saya di EKSIS sangat menarik dan berkesan.
Disana saya berkenalan dengan banyak teman-teman. Terutama teman-teman 2010 pastinya. Seperti malik, ardias, febry, ambar, azizah, dewis, yulista, rossi, hima, lia dll. Mereka semua adalah barisan yang nantinya akan menjdi motor penggerak seperti mbak dan mas-mas nya sekarang. Yah, itulah yang terbesit dalam benakku pada saat itu. Keinginan untuk bisa berkumpul bersama teman: EKSIS adalah saat dimana kita bisa mengetahui satu sama lain dan berusaha memberikan yang terbaik disana.
EKSIS telah banyak menjadikan aku bisa berfikir again n again to always remember Allah SWT. To remind untuk sholat, puasa dan lainnya. Pokoknya asik banget. Namun, ntah kenapa hal tersebut sudah mulai memudar. Tidak ada kedekatan satu sama lain. Yang ada malah saling serang dan saling menjatuhkan. Jika aku diberikan sebuah permintaan layaknya alladin. Mungkin hal yang ingin aku pinta adalah mengembalikan aku ke masa tahun pertama di EKSIS. Yah, tahun dimana aku bisa bersama dengan teman” 2010 dan teman” EKSIS. Anmun, apadaya kita harus bisa move on jika kita stuck ditempat malah membuat kita mnjadi seonggok daging hidup yang tidak berguna. Langkah kita masih panjang dan terjal untuk dilewati. Jika kita hanya berleha-leha saja. Maka jaman lah yang nantinya akan menggilas kita dengan berbagai macam sodoran dogma” baru dari luar. So, do something, everything what u need n wthat u can, don’t give up untill u die.. itulah kata” yang selalu terngiang ditelinga ini. . Masuk EKSIS, hmmmm, sepertinya menarik. Sedekat hati, sedekat Keluarga ,, 

Semua dan Segalanya

karena sejatinya manusia hadir dunia saling berpasangan. Itulah yang Allah beritahukan kepada manusia melalui Al-Qur'an. Bahwa setiap in...